JAYAPURA — Narasi bahwa Papua adalah hadiah dari kolonial Belanda kepada Indonesia kerap dibantah oleh fakta sejarah. Berdasarkan keterangan resmi dari Penkodam XVII/Cenderawasih yang dirilis baru-baru ini, terdapat setidaknya tiga tokoh kunci yang mempelopori gerakan integrasi Papua ke pangkuan ibu pertiwi sejak era 1940-an.
Mereka adalah Silas Papare, Frans Kaisiepo, dan Johannes Abraham (J.A.) Dimara. Ketiganya bergerak dengan pendekatan berbeda, namun satu tujuan: meruntuhkan belenggu kolonialisme Belanda dan memastikan Papua menjadi bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Silas Papare disebut sebagai fondasi gerakan politik perlawanan di Papua. Pada tahun 1946, ia membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Langkah ini membuktikan bahwa aspirasi integrasi telah terorganisir secara rapi di kalangan masyarakat lokal, bukan sekadar gerakan sporadis.
Melalui jalur diplomasi dan penggalangan dukungan, Silas Papare menunjukkan bahwa perlawanan terhadap Belanda bisa dilakukan tanpa senjata. Ia adalah arsitek yang meyakinkan bahwa kesadaran politik untuk bergabung dengan NKRI sudah mengakar kuat di tanah Papua jauh sebelum tahun 1960-an.
Tokoh kedua adalah Frans Kaisiepo. Kontribusinya bersifat simbolik namun sangat strategis. Dalam Konferensi Malino tahun 1946, ia berani mempopulerkan akronim "IRIAN", yang berarti "Ikut Republik Indonesia Anti-Nederland".
Tindakan ini bukan sekadar permainan kata. Frans Kaisiepo secara sadar membangun identitas nasional yang menolak narasi kolonial. Ia memperkuat ikatan emosional antara rakyat Papua dan NKRI melalui simbol yang mudah diingat dan sarat makna perlawanan.
Tokoh ketiga, Johannes Abraham Dimara, memainkan peran sebagai jembatan antara perjuangan rakyat dan operasi militer pembebasan. Ia memobilisasi kekuatan pemuda dan rakyat Papua di Biak untuk melakukan aksi gerilya.
Medan Papua yang berat tidak menyurutkan langkahnya. J.A. Dimara membuktikan bahwa perlawanan terhadap Belanda didukung penuh oleh keberanian putra-putra daerah di lapangan, bukan hanya di meja perundingan. Aksi gerilya ini menjadi bukti fisik bahwa rakyat Papua siap berkorban demi persatuan.
Penkodam XVII/Cenderawasih menegaskan bahwa perjuangan bergabungnya Papua ke dalam NKRI tumbuh dari dalam tanah Papua sendiri. "Kedaulatan dan integrasi Papua bukanlah kado, ia diperjuangkan dengan tegak oleh masyarakat dan semangat putra daerah yang menginginkan persatuan," tulis keterangan resmi tersebut.
Pengakuan institusi militer terhadap peran tiga tokoh ini menjadi pengingat bahwa sejarah integrasi Papua adalah sejarah perjuangan bersama, bukan sekadar hasil diplomasi tingkat tinggi di Jakarta atau New York.