Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan, anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. Hingga akhir Mei 2026, anomali suhu tercatat mencapai positif 1,0 derajat Celsius.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Hasil pemodelan iklim terkini menunjukkan peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen. Sementara peluang meningkat menjadi kategori kuat tercatat sebesar 62 persen. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat minus 0,56.
BMKG juga memantau potensi fenomena IOD positif di Samudra India pada periode Juli hingga November 2026. Kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
“Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai wilayah dunia. Untuk Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering, terutama pada periode Juni hingga Januari,” jelas Ardhasena.
BMKG memperkirakan semakin banyak wilayah Indonesia memasuki musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan. Pada Juni 2026, sebanyak 198 zona musim atau 31,6 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau.
Wilayah yang masuk kemarau pada Juni 2026 meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, serta Papua Barat dan Papua bagian timur. Pada Juli 2026, sebanyak 66 zona musim menyusul, termasuk sebagian Maluku Utara dan Maluku.
Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dari rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Wilayah itu mencakup sejumlah daerah di Papua.
Dari sisi sifat hujan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau di bawah normal. Sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen luas daratan diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih kering meliputi sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Pulau Papua. Hanya 7 zona musim atau 0,68 persen wilayah yang diperkirakan mendapat curah hujan di atas normal akibat faktor topografi lokal.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, dan masyarakat di wilayah terdampak untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.