PAPUA — Swiss sejatinya unggul lebih dulu melalui penalti Breel Embolo di babak pertama. Keunggulan itu bertahan hingga injury time babak kedua sebelum Qatar menyamakan kedudukan lewat sundulan Khoukhi. Satu poin ini menempatkan Swiss di puncak klasemen sementara Grup B, unggul selisih gol dari Kanada, Qatar, serta Bosnia dan Herzegovina.
Granit Xhaka tidak menutupi kekecewaannya. Menurut gelandang 33 tahun itu, Swiss kehilangan ritme di akhir laga karena terlalu bernafsu menambah gol.
"Jika Anda tidak mencetak gol di depan, Anda akan kebobolan. Mungkin kami juga sedikit kehilangan kesabaran karena berpikir kami harus membuat skor menjadi 2-0," ujar Xhaka dalam konferensi pers usai pertandingan.
Ia menilai timnya gagal membaca situasi saat unggul. "Kami harus cukup cerdas dan berpengalaman untuk menyelesaikan pertandingan saat unggul 1-0. Kami tahu mereka sedang menunggu momennya, dan mereka mendapatkannya pada menit ke-94," lanjut kapten Swiss itu.
Alih-alih bicara target tinggi di turnamen, Xhaka justru meminta timnya realistis. Ia menegaskan Swiss belum pantas menyandang status kandidat juara setelah performa inkonsisten di laga pembuka.
"Pada akhir babak kedua, kami kehilangan ritme permainan dan itu tidak boleh terjadi di level seperti ini," kata Xhaka. "Sekarang kami harus kembali berpijak di bumi dan menghadapi kenyataan. Kenyataannya adalah saat ini kami sama sekali belum siap untuk berbicara tentang gelar juara atau Piala Dunia terbaik."
Hasil ini menjadi alarm bagi Swiss yang di atas kertas diunggulkan di Grup B. Kegagalan memanfaatkan peluang menjadi gol kedua dan menurunnya konsentrasi di menit akhir menjadi catatan serius.
Swiss masih memiliki dua laga sisa melawan Kanada serta Bosnia dan Herzegovina. Xhaka menuntut evaluasi total agar timnya tidak kembali kehilangan poin penting.