JAYAPURA — Gubernur Papua Mathius D Fakhiri menegaskan bahwa program Mace merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. "Melalui program ini kami ingin membantu anak-anak Papua agar dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan dengan baik sehingga kelak mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah," ujarnya di Jayapura, Sabtu.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Marthen Medlama merinci bahwa bantuan dalam program Mace terdiri dari dua komponen utama. Pertama, biaya pendidikan yang dibayarkan langsung oleh pemerintah kepada perguruan tinggi berdasarkan tagihan yang diterima. Kedua, bantuan biaya hidup yang disalurkan melalui kartu Mace khusus bagi mahasiswa penerima manfaat.
"Skema pembayaran langsung kepada kampus dilakukan untuk memastikan dana bantuan digunakan sesuai peruntukannya dan mendukung keberlangsungan studi mahasiswa penerima manfaat," jelas Marthen.
Salah satu terobosan dalam program ini adalah penggunaan sistem seleksi berbasis digital. Marthen menjelaskan bahwa portal khusus akan memverifikasi identitas penerima melalui nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor induk mahasiswa (NIM). Mekanisme ini dirancang untuk mencegah terjadinya duplikasi penerima bantuan.
"Mekanisme tersebut diharapkan dapat memudahkan pengawasan sekaligus memastikan bantuan diterima oleh mahasiswa yang berhak," katanya.
Gubernur Mathius D Fakhiri menekankan bahwa program ini adalah salah satu prioritas Pemprov Papua. Dengan target 1.000 mahasiswa, pemerintah berharap generasi muda Papua dapat mengenyam pendidikan tinggi hingga tuntas. "Program tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah guna memastikan mahasiswa Papua dapat menyelesaikan pendidikan tinggi dan memiliki daya saing yang baik di masa depan," ucapnya.
Program Mace menjadi salah satu instrumen strategis Pemprov Papua dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Dengan sistem digital yang transparan, diharapkan tidak ada lagi mahasiswa yang terlewatkan dari kesempatan memperoleh pendidikan layak.