PAPUA — FIFA resmi menerapkan jeda minum tiga menit di setiap babak pertandingan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Kebijakan ini awalnya digadang-gadang demi kesejahteraan pemain di tengah cuaca ekstrem, namun tak sedikit kritik yang muncul karena jeda ini juga dimanfaatkan untuk menayangkan iklan. Di sisi lain, momen tersebut menjadi peluang emas bagi pelatih untuk memberikan instruksi taktis tambahan kepada para pemainnya.
Catatan dari AceOdds mengungkapkan bahwa dari total 241 gol yang sudah tercipta di turnamen, sebanyak 40 gol lahir dalam kurun waktu 10 menit setelah jeda minum. Angka ini terbagi rata di antara kedua babak, dengan 20 gol terjadi setelah jeda babak pertama dan 20 gol sisanya di babak kedua.
Kanada dan Brasil memimpin daftar tim paling produktif. Namun, Brasil harus waspada setelah kebobolan gol cepat dari Jepang pasca jeda minum babak pertama di babak 32 besar, meski akhirnya menang 2-1. Inggris, di sisi lain, baru memecahkan kebuntuan pada laga terakhir mereka.
Gol penyeimbang Harry Kane pada menit ke-75 melawan DR Congo di babak 32 besar menjadi gol pertama Inggris yang lahir dalam rentang 10 menit setelah jeda minum. Sebelumnya, tim asuhan Thomas Tuchel justru kebobolan lebih dulu di momen serupa saat Martin Baturina menyamakan skor untuk Kroasia di laga pembuka Grup L, meski Inggris akhirnya menang 4-2.
Kane yang mencetak gol penentu kemenangan 11 menit kemudian, menunjukkan betapa pentingnya memanfaatkan jeda tersebut. Tuchel kini dihadapkan pada kebutuhan untuk mengoptimalkan waktu singkat ini jika ingin melangkah lebih jauh di turnamen.
Di sisi lain, Haiti menjadi tim yang paling menderita akibat jeda minum. Meski hanya tampil di tiga pertandingan fase grup, Haiti kebobolan lima gol dalam 10 menit setelah jeda. Tanpa meraih satu poin pun, mereka langsung tersingkir.
Jordan dan Qatar menyusul dengan masing-masing kebobolan tiga gol pasca jeda. Catatan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pelatih untuk memperkuat konsentrasi pemain saat pertandingan dilanjutkan.