JAYAPURA — Puluhan ribu warga Papua Nugini (PNG) memperingati Hari Peringatan Nasional, Kamis (23/7/2026), untuk mengenang pertempuran pertama tentara lokal melawan pasukan Jepang di Kampung Awala, Provinsi Oro, pada 1942. Momentum itu sekaligus menjadi refleksi atas pendudukan Jepang di wilayah yang kini menjadi Papua Indonesia.
Menurut catatan sejarah yang dikutip Jubi, pasukan Jepang memasuki Hollandia (Jayapura) pada 19 April 1942 tanpa menghadapi perlawanan berarti. Ribuan warga terpaksa mengungsi, sebagian lainnya dipekerjakan secara paksa di bawah pengawasan tentara Jepang. Wilayah Nederlands Nieuw Guinea itu menjadi salah satu titik strategis Jepang dalam kampanye Pasifik.
Jepang sebelumnya telah maju menuju Port Moresby pada Januari 1942, mengancam hubungan Australia dengan sekutu utaranya. Kampanye Kokoda yang berlangsung sejak 23 Juli 1942 menjadi titik balik di Pasifik.
Dalam pidatonya, PM James Marape menekankan bahwa rakyat PNG adalah peserta tak bersalah dalam konflik yang bukan milik mereka. "Kita harus ingat bahwa Perang Dunia II bukanlah perang kita. Namun mereka menanggung penderitaan, pengungsian, dan kehilangan," katanya seperti dilansir tvwan.com.pg, Sabtu (25/7/2026).
Pada 23 Juli 1942, prajurit dari Batalyon Infanteri Papua (PIB), termasuk Prajurit Ben Moide, terlibat baku tembak pertama dengan Jepang di dekat Kampung Awala. Para bintara dan pengintai lokal, seperti Sersan Katue, melakukan patroli solo di belakang garis musuh untuk mengumpulkan informasi vital bagi Sekutu. Ribuan warga PNG kemudian mendaftar di PIB dan Batalyon Infanteri Nugini, yang kemudian membentuk Resimen Kepulauan Pasifik.
Mereka bertempur berdampingan dengan unit Australia di Milne Bay, Buna, Gona, dan Lae. Sejumlah prajurit dianugerahi Medali Kehormatan atas keberanian mereka.
Selain pasukan tempur, para pengangkut Papua—dikenal sebagai "Malaikat Fuzzy Wuzzy"—memainkan peran krusial. Mereka mengangkut tentara Australia yang terluka melalui medan berbahaya, seringkali dengan risiko besar. Meski menghadapi kondisi buruk dan penyakit, kontribusi mereka menjadi penentu kemenangan Sekutu di Pasifik.
Kemitraan itu diabadikan dalam film dokumenter Damien Parer, Kokoda Front Line!, yang menampilkan rekaman paling kuat tentang kapal pengangkut Papua dan tentara Australia. Menteri Pertahanan PNG, Elias Kavopore, dalam peringatan tersebut mengatakan, "Dari Kokoda hingga Bougainville, warga Papua Nugini dan Australia berjuang berdampingan. Pengorbanan bersama mereka membangun warisan peringatan yang berlanjut hingga hari ini."
Pemakaman Perang Bomana di luar Port Moresby kini berdiri sebagai pengingat khidmat. Terdapat 3.824 makam Persemakmuran, termasuk 699 tentara tak dikenal. Di belakang pemakaman, Monumen Port Moresby memperingati hampir 750 prajurit Australia, Angkatan Laut Dagang, dan RAAF yang tidak memiliki makam diketahui. Deretan batu nisan putih di halaman rumput tropis itu menjadi sakbis pengorbanan yang tak boleh dilupakan.