Di pondok reot beratap seng yang disangga kayu di Kampung Anggreso, belasan anak, dua ibu hamil, dan tiga lansia menunggu panggilan Suster Grace—panggilan warga untuk perawat Grace M Weya dari Puskesmas Kasonaweja. Sudah hampir setahun, perempuan 38 tahun itu mengecek kesehatan mereka sekali atau dua kali seminggu, membawa tas jinjing hijau besar berisi obat dan vitamin.
Pagi itu, Grace menenangkan Marince yang histeris saat jarinya diremas untuk diambil sampel darah guna tes malaria. "Kalau hasilnya positif, nanti muncul garis berwarna di situ," katanya sambil menunjukkan alat stik putih. Pemeriksaan berlanjut ke ibu hamil dengan bayi sungsang, lalu ke seorang nenek yang menggendong cucu laki-lakinya, Petra Merne.
Grace membaringkan Petra di meja kayu. Bocah itu menatap kosong, jari-jarinya terus bergerak seperti ingin menggapai sesuatu. Ayah Petra, Maurenus Merne, hanya menggeleng ketika ditanya usia anaknya. Ia tak ingat tanggal lahir ketujuh anaknya—tiga lahir di kampung lama di tengah hutan, empat lainnya di Anggreso.
"Usia empat tahun, semestinya dia sudah bisa berbicara, jalan, komunikasi, melihat benda, atau menghafal sesuatu. Tapi ini kan belum… dia cuma bisa melihat dan menangis," ujar Grace. "Kalau sakit, dia menangis saja, tidak bisa bilang 'Saya sakit di sini'. Cuma dengan air mata saja… Haus, lapar, buang air hanya dengan air mata."
Petra belum pernah diperiksa dokter spesialis anak. Grace menduga, selama mengandung, ibu Petra tidak mendapat asupan bergizi dan vitamin yang memadai. Ditambah, bocah itu belum pernah diimunisasi.
Warga Kampung Anggreso memiliki aturan adat yang tak biasa: setiap ibu hamil dibuatkan "rumah persalinan" semi-permanen di samping tempat tinggal mereka. Beberapa hari sebelum dan saat bersalin, si ibu mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan bidan atau tenaga kesehatan. Akibatnya, tak ada yang mencatat tanggal kelahiran anak-anak mereka.
"Sudah menjadi hal yang umum kalau warga di sini tak tahu kapan anak mereka lahir. Bahkan kalau ditanya berapa usia para orang tua, mereka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala," kata Grace.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Papua masuk 10 provinsi dengan stunting dan gizi buruk akut. Namun, hanya 1% dapur Makan Bergizi Gratis beroperasi di sana. Sebaliknya, Jawa—wilayah dengan angka stunting terendah—memiliki 53% dari total dapur MBG nasional.
BBC News Indonesia melaporkan, Kampung Anggreso di Mamberamo Raya mendapat tiga predikat dari pemerintah: termiskin, terpencil, dan stunting tertinggi. Di kampung ini, anak-anak bertubuh kurus dengan perut buncit, ibu-ibu melahirkan tanpa tenaga kesehatan, dan hanya sedikit balita yang mendapat imunisasi. Pertanyaannya: mengapa tak ada dapur MBG di wilayah yang paling membutuhkan?