PAPUA — Keputusan ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua OC Bidang Administrasi Turnamen, Risha Ady Wijaya, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/8). Panitia menilai fleksibilitas rotasi menjadi jalan keluar paling realistis di tengah padatnya agenda pertandingan.
Risha menegaskan aturan anyar ini bukan formalitas belaka. Panitia bahkan telah mengirimkan surat resmi kepada klub-klub sejak dua hari sebelum semifinal, meminta mereka segera meregistrasi tambahan amunisi baru.
"Dan untuk mengantisipasi tentang schedule yang sangat ketat, kita memberikan kebebasan kepada klub peserta untuk menggantikan rotasi pemain sebanyak 12 pemain dalam satu kali pertandingan," ujar Risha. "Jadi tinggal pelatih saja untuk mengatur gimana rotasi itu bisa dilaksanakan."
Kuota 12 pergantian memberi ruang gerak jauh lebih lebar dibanding regulasi normal yang hanya mengizinkan lima pergantian. Para pelatih kini memiliki keleluasaan taktis untuk menyegarkan lini tengah maupun pertahanan di tengah intensitas laga yang tinggi.
Kebijakan ini diambil agar kualitas pertandingan tetap terjaga dan pemain terhindar dari kelelahan berlebih. Panitia menyerahkan sepenuhnya keputusan teknis terkait rotasi kepada tim pelatih masing-masing.
Menanggapi sorotan soal standar jeda istirahat ideal, Risha memberikan klarifikasi penting. Aturan baku mengenai masa istirahat 72 jam, menurutnya, tidak serta-merta berlaku untuk kompetisi domestik seperti Piala Presiden.
"Terkait permasalahan 72 jam masa istirahat, kalau boleh kami share bahwa 72 jam masa istirahat itu adalah rekomendasi FIFA terhadap anggotanya dengan catatan untuk turnamen antar-federasi, artinya antar-negara," jelas Risha. "Seperti Timnas kita bertanding dengan Singapura atau Malaysia dan lain-lain. Dan tentunya juga khusus untuk kompetisi di bawah FIFA langsung."
Dengan demikian, panitia menilai langkah diskresi taktis ini sudah sesuai regulasi yang disetujui AFC sejak awal Juli. Kebijakan ini menjadi solusi paling realistis di tengah keterbatasan waktu persiapan menuju partai puncak.