JAYAPURA — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayjen TNI Trenggono meninjau langsung penanganan dugaan insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Jumat. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak memperoleh pelayanan medis memadai sekaligus memperkuat langkah evaluasi penyelenggaraan program.
“Hari ini saya bersama Wakil Menteri Dalam Negeri telah meninjau langsung penanganan dugaan insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre untuk memastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak memperoleh pelayanan kesehatan secara optimal sekaligus memperkuat langkah evaluasi terhadap penyelenggaraan program,” kata Trenggono dalam keterangannya di Jayapura.
Berdasarkan data hingga pukul 15.45 WIT, tercatat sebanyak 219 penerima manfaat telah memperoleh penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 83 pasien dirawat di RSUD Yowari, 61 pasien di Puskesmas Depapre, dan 14 pasien di Puskesmas Sentani.
Pasien lainnya tersebar di Puskesmas Komba (2 orang), Puskesmas Kampung Harapan (1 orang), RS Dok II Jayapura (4 orang), RS Abepura (24 orang), RS Kementerian Kesehatan (21 orang), dan RS Dian Harapan (20 orang). Dari jumlah tersebut, delapan pasien telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya membaik. Sementara itu, tiga pasien dirujuk dari RSUD Yowari ke RS Kementerian Kesehatan untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Tim BGN bersama Pemerintah Provinsi Papua telah mengunjungi Dapur SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua untuk mengevaluasi proses penyediaan makanan. Operasional dapur tersebut resmi dihentikan sementara untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Setelah melakukan peninjauan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memang banyak sekali kekurangan sehingga pihaknya sudah memberikan teguran. Kami juga menegur koordinator wilayah, kenapa pengawasan seperti ini masih terjadi. Sementara kita suspend dulu, kita cek dan investigasi di mana letak kesalahannya, apakah pada SOP atau bahan bakunya,” ujar Trenggono.
Hasil penelusuran awal mengarah pada dugaan adanya penurunan kualitas salah satu menu, yakni tempe bacem yang dimasak terlalu dini. Meski demikian, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Seluruh pihak diminta menunggu hasil investigasi resmi sebelum menarik kesimpulan.
BGN menegaskan evaluasi yang dilakukan bukan hanya untuk mengidentifikasi penyebab kejadian, tetapi juga sebagai upaya memperkuat sistem pengawasan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Hasil investigasi akan menjadi dasar penyempurnaan sistem pengawasan mutu, keamanan pangan, serta penerapan standar operasional pada seluruh tahapan penyelenggaraan program.
“Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi, meningkatkan pengawasan, dan memastikan implementasi standar operasional berjalan secara konsisten di seluruh satuan pelayanan,” katanya.
BGN terus berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Provinsi Papua, pemerintah kabupaten, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, serta seluruh pemangku kepentingan guna memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik sekaligus mendukung proses investigasi yang tengah berlangsung.