PAPUA — Serial dokumenter terbaru Netflix, Mourinho, tidak hanya menyoroti kejeniusan taktik atau rentetan trofi yang pernah diraihnya. Di balik citra "The Special One" yang percaya diri, sutradara Joe Pearlman menemukan sosok yang lebih kompleks: seorang pria yang mengaku tidak tertarik pada orang lain, namun mendambakan perhatian, dan yang menyimpan kesedihan mendalam atas kepergian ayahnya.
Pearlman, yang juga mengarahkan film dokumenter tentang David Beckham, mengungkapkan bahwa ia menyadari tantangan sejak awal. "Saya tahu wawancaranya akan sangat intens, dan dia akan mencoba mengendalikan narasi dan memanipulasi kami," ujarnya. "Semua yang buruk adalah kesalahan orang lain dan semua yang dia lakukan divalidasi oleh kemenangan."
Salah satu momen paling emosional dalam dokumenter ini terjadi ketika pembicaraan mengarah pada mendiang ayahnya, Felix Mourinho, yang wafat pada Juni 2017. Pearlman menggambarkan bahwa kehilangan tersebut belum sepenuhnya diproses oleh Mourinho. "Dia jelas mengubur kehilangan ayahnya. Sangat menyakitkan baginya untuk membicarakannya," kata Pearlman. "Saya tidak berpikir Jose pernah mencoba memahami apa arti setiap bagian dari hidupnya. Dia selalu melihat ke depan, selalu mencari hal berikutnya."
Saat Pearlman mencoba menggali masa kecil Mourinho untuk episode ketiga, pelatih asal Portugal itu justru menolak. "Dia tidak mau membicarakannya karena dia tidak berpikir itu relevan dengan siapa dirinya sekarang, pada dasarnya mengatakan dia tidak tertarik pada orang lain," kenang Pearlman. "Yang, untuk salah satu manajer pemain terhebat sepanjang masa, cukup aneh."
Namun, di balik sikap defensifnya, ada pengakuan jujur yang membuat Pearlman tertegun, terutama saat Mourinho berbicara tentang keluarganya. "Kamu bisa mendengarnya dari suaraku," kata Pearlman. "Aku seperti: 'Ya Tuhan, apa rasanya mengatakan itu?'"
Dokumenter ini juga menelusuri bagaimana perasaan terasing di masa muda membentuk mentalitas Mourinho. Sebagai anak dari pelatih yang dicintai, ia justru merasa menjadi orang luar. Namun, ketika ia menjadi pelatih tanpa karier sebagai pemain profesional, ia mengubah status itu menjadi keuntungan psikologis. Pearlman menilai sikap "chip on the shoulder" inilah yang membuat Mourinho mampu bertahan di tengah tekanan finansial Chelsea dan persaingan sengit di Real Madrid.
"Semua yang membuat Mourinho istimewa—kecerdasan, kepercayaan diri, pesona, kejeniusan, dan kesejukan—menyala di layar," ujar Pearlman. "Ego dan karisma di atas bakat memungkinkannya mewujudkan karakter yang selalu ia impikan, yang mungkin tidak ia miliki di masa kecilnya, dan itulah sosok yang kita kenal sebagai Jose Mourinho."