PAPUA — Sidang yang dimulai Selasa (18/8) di pengadilan federal California ini melibatkan koalisi 29 negara bagian AS. Gugatan yang diajukan sejak 2023 ini menuding Meta gagal melindungi pengguna remaja dari bahaya kesehatan mental akibat fitur produknya yang dirancang adiktif.
Pengacara California, Megan O'Neill, membuka persidangan dengan klaim bahwa Meta menemukan jutaan akun milik anak berusia 11-12 tahun di Instagram. Temuan ini menjadi dasar argumen bahwa Meta sadar akan keberadaan pengguna di bawah umur, namun tetap menargetkan anak muda sebagai pengguna Facebook dan Instagram.
"Jebak pengguna; pertahankan mereka selama mungkin; kumpulkan data mereka; sembunyikan faktanya dari publik saat membuat pernyataan," kata O'Neill menggambarkan model bisnis Meta, dikutip dari BBC, Rabu (19/8/2026).
Arturo Béjar, mantan direktur engineering Facebook periode 2009-2015, menjadi saksi pertama yang dihadirkan. Ia mengungkapkan bahwa Meta pernah melakukan riset tentang keselamatan pengguna, namun hasilnya tidak pernah diterapkan untuk memperbaiki produk.
Béjar mencontohkan, engineer Meta sempat mengusulkan fitur untuk mencegah remaja terpapar konten gangguan makan. Usulan itu akhirnya diperkecil menjadi fitur yang tidak berdampak signifikan setelah melalui proses tinjauan internal.
Pernyataan Béjar memperkuat tuduhan bahwa Meta lebih mementingkan retensi pengguna dibandingkan keselamatan mereka, terutama untuk demografi muda yang menjadi target pertumbuhan platform.
Pengacara Meta, Paul Schmidt, membantah tuduhan tersebut dengan argumen bahwa gangguan kecanduan media sosial tidak diakui secara medis. Ia juga menyoroti banyaknya pengguna remaja yang mendapat pengalaman positif dari platform Meta.
Schmidt mengakui adanya masalah seperti pengguna yang berbohong soal usia dan waktu pemakaian berlebih. Namun, ia menegaskan fokus pembelaan akan diarahkan pada upaya Meta membuat platformnya lebih aman, bukan pada pengakuan atas tuduhan yang dialamatkan.
Meta mengklaim mereka terancam membayar ganti rugi USD 1,4 triliun jika kalah. Namun, para ahli hukum menilai angka tersebut tidak akan mendekati realita, mengingat preseden kasus serupa di AS yang biasanya berakhir dengan sanksi jauh lebih kecil.
Persidangan ini akan berlanjut dengan 25 negara bagian lainnya yang menjalani sidang terpisah di kemudian hari. Zuckerberg dan sejumlah eksekutif kunci lainnya kemungkinan besar akan dipanggil untuk memberikan kesaksian di tengah jalannya persidangan.
Bagi gamer Indonesia yang aktif di platform Meta, kasus ini layak dipantau karena hasilnya bisa mengubah cara Instagram dan Facebook menangani konten untuk pengguna di bawah umur, termasuk kebijakan moderasi dan fitur parental control di masa depan.