BBM Langka di Makassar Sepekan, Warga Antre Berjam-jam hingga Siswa Belajar dari Rumah

Penulis: Sofyan Basri  •  Senin, 14 September 2026 | 18:03:01 WIB
Warga mengantre bahan bakar minyak di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu (12/9).

PAPUA — Endang, 38 tahun, berdiri di bawah terik matahari bersama puluhan pengendara lain di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu (12/9). Ia sudah menunggu satu jam lebih untuk mengisi Pertalite.

"Saya antre sudah 1 jam 30 menit," katanya kepada jurnalis BBC Indonesia, Muhammad Aidil.

Antrean kendaraan mengular sampai bahu jalan. Pengemudi truk, bus, dan mobil berbahan bakar solar menunggu lebih lama lagi. Kelangkaan ini sudah terasa sejak empat hari sebelumnya, dan di sejumlah SPBU berlangsung hampir sepekan.

Pegawai Kantor hingga Pekerja Serabutan Terdampak

Bagi Endang yang bekerja sebagai pegawai kantoran, antre pagi bukan pilihan. Ia harus sudah berada di kantor pukul 07.30 WITA.

Jalan pintasnya adalah membeli BBM eceran di Pertamini. Harganya jauh di atas normal. Satu botol sekitar 1,5 liter dijual Rp35.000, yang termurah Rp30.000.

"Dikasih naik [harganya], satu botol Aqua besar harganya Rp35.000, yang paling murah Rp30.000. Kami pegawai kan uang makannya cuma Rp15.000," ujarnya.

Amiruddin, 62 tahun, pekerja serabutan, merasakan hal serupa. Ia sempat mengantre sekitar satu jam di SPBU Daya sebelum stok habis tepat sebelum gilirannya.

"Habis [BBM], jadi pindah ke sini. Di sini ada 1 jam lagi saya antre," tuturnya.

Ia menyebut Pertamini pun tak luput dari antrean. Begitu pembeli datang, stok langsung kosong. Harga eceran di sana berkisar Rp15.000 sampai Rp20.000 per liter.

"Serba sulit. Bagaimana kita mau mencari nafkah kalau BBM ini [langka], sedangkan yang mau kita pakai kendaraan, butuh bensin," kata Amiruddin.

Siswa Belajar dari Rumah karena Transportasi Lumpuh

Dampak kelangkaan ini merembet ke dunia pendidikan. Sejumlah siswa di Makassar kini mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kendaraan tidak bisa beroperasi normal.

Endang mengaku aktivitas hariannya nyaris berhenti. Ia tidak bisa ke kantor, juga tidak bisa ke pasar.

"Aktivitas terhambat karena tidak ada bensin. Mau ke kantor tidak bisa, mau jalan-jalan ke pasar juga tidak bisa," keluhnya.

Ia menduga ada permainan oknum di balik kelangkaan, meski mengaku tidak tahu pasti penyebabnya.

"Saya tidak tahu juga kenapa langka, karena stoknya dari Pertamina kan ada terus. Kami tidak tahu apakah ada oknum yang mengambil untuk dijual kembali supaya langka," tutur Endang.

ESDM Bantah Kelangkaan, Pertamina Catat Lonjakan Konsumsi

Juru bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, membantah antrean panjang di Makassar disebabkan kelangkaan pasokan. Stok di terminal penyimpanan Makassar disebut masih cukup dan distribusi berjalan normal.

Penyebab yang disebut ESDM adalah lonjakan konsumsi Pertalite akibat peralihan pengguna dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi, ditambah dugaan penimbunan dan panic buying.

"Kondisinya juga bikin masyarakat panik, panic buying, takut nggak kebagian, jadi antre ke mana-mana," ujar Dwi.

Dari sisi Pertamina, Area Manager Communication, Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menyebut ada peningkatan kebutuhan BBM sekitar 10 sampai 15% pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Dosen dan praktisi infrastruktur transportasi Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles, menilai antrean itu menandakan berkurangnya ketersediaan BBM di lapangan. Kondisi diperparah ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi di tengah terbatasnya transportasi umum.

Kementerian ESDM belum menjawab permintaan wawancara BBC News Indonesia hingga artikel ini diturunkan. Sehari sebelumnya, Jumat (11/9), massa menggelar protes menuntut kepastian pasokan BBM di Makassar.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: bbc.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top