PAPUA — Kepala KRI Tawau Dino Nurwahyudin memimpin langsung rangkaian pertemuan dengan dua kamar dagang di kawasan ekonomi Sabah tersebut. Di Lahad Datu, ia bertemu Lahad Datu Chinese Chamber of Commerce (LD.CCC) yang menaungi lebih dari 300 pelaku usaha keturunan Tionghoa. Di Kunak, pertemuan berlangsung dengan Kunak Chinese Chamber of Commerce (Kunak.CCC) yang beranggotakan sekitar 100 pengusaha.
Kelapa Sawit hingga Perikanan Jadi Sektor Andalan
Struktur ekonomi kedua kawasan bertumpu pada sektor yang sama: perkebunan kelapa sawit. Di Lahad Datu, sawit menjadi bidang usaha paling dominan, disusul perikanan, pertanian, perdagangan ritel, dan konstruksi. Kunak tidak jauh berbeda—posisinya di antara Tawau dan Lahad Datu membuat daerah ini strategis, tetapi ekonominya masih bergantung pada sawit.
Sejumlah anggota LD.CCC tercatat sudah menjalankan ekspor-impor dengan Indonesia. Namun volume kerja sama itu dinilai belum sepadan dengan potensi yang ada.
"Beberapa anggota sudah melakukan kegiatan ekspor-impor dengan Indonesia. Namun, konektivitas menjadi salah satu kendala utama untuk meningkatkan kerja sama bisnis," kata Dino.
Kunak Mulai Garap Sektor Wisata
Selain sawit, Pemerintah Daerah Kunak tengah menata sejumlah destinasi wisata. Langkah ini dibaca KRI Tawau sebagai peluang ekonomi baru yang bisa melibatkan mitra Indonesia. Presiden Kunak.CCC Pong Kim Wai menyebut sekitar 100 pengusaha keturunan Tionghoa beroperasi di kawasan tersebut.
Dino mengakui hubungan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan pengusaha di Lahad Datu maupun Kunak belum berkembang optimal. Komunikasi langsung dianggap jalan untuk membangun kepercayaan sekaligus mempertemukan kebutuhan kedua pihak.
"Dalam dunia bisnis, trust atau kepercayaan merupakan kunci utama keberhasilan dalam menjalankan aktivitas bisnis," ujarnya.
TEI 2026 dan Seminar Investasi Jadi Pintu Masuk
KRI Tawau mendorong pengusaha Lahad Datu dan Kunak hadir di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang digelar di Tangerang pada 14–18 Oktober 2026. Ajang itu dinilai memberi ruang dialog langsung dengan pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum TEI berlangsung, seminar investasi dijadwalkan pada 21 September 2026 di Hotel Emas, Tawau. Kegiatan ini akan menghadirkan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur serta pejabat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
"Mereka yang mengetahui secara komprehensif bagaimana melakukan kegiatan bisnis dan berinvestasi di Indonesia. Pelaku bisnis yang kami temui di Lahad Datu maupun Kunak menyambut baik dan menyampaikan akan hadir pada kedua kegiatan tersebut," jelas Dino.
Menengok Hap Fatt Marine dan Nancy's Farmville
Delegasi KRI Tawau tidak hanya menggelar pertemuan. Mereka mengunjungi sejumlah perusahaan untuk melihat langsung potensi sektor usaha di Sabah. Salah satunya Hap Fatt Marine, perusahaan penyedia, pengolah, dan eksportir produk makanan laut segar dan beku—ikan, cumi-cumi, serta udang.
Produk Hap Fatt Marine menembus pasar Semenanjung Malaysia, Sabah, dan Sarawak. Ekspornya juga masuk ke China, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan sejumlah negara Asia Tenggara lain. Perusahaan ini tercatat sebagai penerima Golden Bull Award 2023 dan Asia Honesty Awards 2025.
Kunjungan lapangan berlanjut ke Nancy's Farmville, usaha pertanian yang mengembangkan praktik berkelanjutan dan buah-buahan premium. Kebun ini dikenal sebagai salah satu penghasil avokad varietas OAVI hasil kajian Jabatan Pertanian Sabah. Komoditas lain yang dihasilkan mencakup nangka J33, cempedak, markisa, serta jambu batu tanpa biji atau seedless crystal guava.
Peluang yang Masih Terbuka Lebar
Dino menilai berbagai potensi tersebut menunjukkan ruang kerja sama ekonomi Indonesia-Sabah masih luas, khususnya dengan pelaku usaha di Lahad Datu dan Kunak. Hubungan erat masyarakat Indonesia dan Sabah yang terjalin puluhan tahun disebutnya bisa menjadi modal memperkuat kerja sama ekonomi.
"Melalui pertemuan langsung dengan para pelaku bisnis di Lahad Datu dan Kunak, Konsulat RI Tawau berharap potensi kerja sama ekonomi dapat terus ditingkatkan," katanya.