PAPUA — Paragraf pembuka: Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menuturkan, Lawang Sewu menyimpan sejarah perjalanan perkeretaapian yang berkaitan erat dengan perkembangan Kota Semarang. Bangunan di kawasan Tugu Muda itu dahulu menjadi kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api era kolonial. "Perjalanan kereta api memiliki hubungan erat dengan perkembangan berbagai kota di Indonesia, termasuk Semarang. Lawang Sewu menjadi salah satu peninggalan yang menyimpan cerita perjalanan perkeretaapian dari masa lalu hingga saat ini," ujar Anne di Jakarta, Minggu (13/9/2026).
Jumlah Kunjungan Naik-Turun Sejak 2024
Rekam jejak kunjungan Lawang Sewu bergerak fluktuatif dalam tiga tahun terakhir. Sepanjang 2024, destinasi ini mencatat 639.091 pengunjung. Angka itu turun tipis menjadi 620.550 pengunjung sepanjang 2025.
Pada Januari-Agustus 2026, Lawang Sewu sudah menerima 376.997 kunjungan. Jumlah tersebut setara lebih dari separuh total kunjungan sepanjang 2025, meski tahun baru berjalan delapan bulan.
Secara kumulatif, Lawang Sewu mencatat 1.636.638 pengunjung sejak 2024 hingga Agustus 2026.
Stasiun Poncol Lebih Ramai daripada Tawang
Lonjakan kunjungan Lawang Sewu berjalan seiring mobilitas penumpang kereta api di Semarang. Stasiun Semarang Poncol mencatat 1.867.005 pelanggan naik dan turun pada Januari-Agustus 2026, terdiri atas 902.984 pelanggan naik dan 964.021 pelanggan turun.
Stasiun Semarang Tawang mencatat 1.262.315 pelanggan naik dan turun pada periode yang sama, dengan rincian 628.946 pelanggan naik dan 633.369 pelanggan turun. Total dua stasiun utama itu menyentuh lebih dari 3,1 juta pelanggan.
Kedua stasiun tersebut menjadi gerbang utama wisatawan yang datang ke Semarang, termasuk mereka yang menjadikan Lawang Sewu sebagai tujuan.
Wisatawan Semarang Capai 7,3 Juta Orang
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang mencatat 7.345.373 wisatawan sepanjang 2024. Sebanyak 7.321.077 di antaranya wisatawan nusantara, sementara 24.296 lainnya wisatawan mancanegara.
Lawang Sewu dibangun oleh NIS dengan pembangunan gedung utama dimulai pada 1904 dan selesai pada 1907. Bangunan itu kemudian dikenal sebagai Lawang Sewu karena arsitekturnya yang memiliki banyak pintu dan jendela.
Anne menyebut masyarakat dapat mengenal sejarah perkeretaapian melalui koleksi dan informasi yang tersedia di Lawang Sewu. "Masyarakat dapat mengenal sejarah tersebut melalui bangunan, koleksi, dan informasi yang tersedia saat berkunjung," tutur Anne.
Penutup: Posisi Lawang Sewu sebagai destinasi heritage memberi KAI kanal lain di luar pendapatan tiket kereta. Dengan mobilitas penumpang dua stasiun utama Semarang yang tetap tinggi, kawasan Tugu Muda berpeluang terus menjadi simpul wisata sejarah di Jawa Tengah.