PAPUA — Film Hope menjadi proyek terbesar sekaligus paling liar yang pernah digarap Na Hong-jin sebagai sutradara dan penulis naskah. Keputusan masuk ke genre fiksi ilmiah dengan jajaran pemain kelas A menjanjikan tontonan epik, terlebih posisinya sebagai comeback setelah sedekade kesuksesan The Wailing.
Namun Hope tidak seganggu The Chaser, segelap The Yellow Sea, atau seambigu The Wailing. Menyaksikan film ini justru terasa melelahkan dengan cara yang berbeda.
Premis: Ancaman Tak Terlihat di Perbatasan Korea Utara
Penceritaan Hope terbagi dua babak. Sejam pertama menjadi masa krusial saat karakter dan penonton dibuat buta akan ancaman yang sedang dihadapi warga di desa dekat perbatasan Korea Utara.
Penonton dibawa mendekati ancaman tak terlihat itu lewat jejak-jejak berdarah, pendekatan yang bukan mainan baru bagi Na Hong-jin. Rasa penasaran berhasil dibangun di sini.
Kamera bergerak agresif menyapu puing-puing kota, mengikuti kepanikan kepala polisi Bum-seok (Hwang Jung-min) yang tiba di lokasi saat segalanya sudah hancur. Bersama Im Sung-ae (Jung Ho-yeon), rekan aparat yang tampak lebih nekat tapi kepalanya jauh lebih jernih, mereka memacu kendaraan melintasi jalanan kacau.
Babak Pertama: Ketegangan yang Dibangun Perlahan
Na Hong-jin menikmati proses mempermainkan ketegangan. Butuh sekitar 45 menit sampai wujud monster benar-benar ditampakkan lebih dari sekadar sekelebat bayangan.
Sebelum momen itu, penonton dipaksa kembali ke insting murni anak-anak yang ketakutan mendengar derit suara asing. Rasa ngeri dibangun pelan-pelan.
Keberhasilan babak pembuka tak lepas dari tangan dingin sinematografer Hong Kyung-pyo. Kemampuannya menangkap atmosfer sunyi dan mencekam khas Zona Demiliterisasi (DMZ) membuat 60 menit pertama terasa imersif.
Babak Kedua: Aksi Berulang dan Karakter yang Kosong
Rentetan pujian harus direm begitu alur menginjak babak kedua. Ekspektasi mendapat titik terang dibalas dengan sekuens aksi kejar-kejaran yang diulang tanpa formula baru.
Latar belakang para tokoh dibiarkan kosong. Na Hong-jin seolah sengaja melucuti ruang empati penonton terhadap karakter manusianya.
Citra pahlawan Bum-seok saat turun menyelidiki di awal mendadak luntur. Ia diperlihatkan sebagai polisi payah yang kewalahan menekan ketakutannya sendiri, bahkan untuk sekadar menaruh iba pada makhluk yang tengah terdesak.
Babak kedua dipanggul Sung-ki (Zo In-sung) dan kawan-kawan yang berujung jadi bulan-bulanan naskah. Sisi manusiawi mereka ditonjolkan lewat kacamata tragis: manusia yang dipenuhi keserakahan, berpikiran kerdil, dan gampang tersulut kekerasan brutal.
Visual CGI dan Komedi Gelap yang Jadi Penyelamat
Menjelang sepertiga akhir, film seperti kehabisan napas. Adegan kejar-kejaran dari pasar desa, lereng gunung, gua, hingga jalan raya justru menggerus momentum ketegangan.
Eksekusi visual memperparah keadaan. Kualitas CGI yang jadi buah bibir sejak sebelum rilis memang terasa timpang, terutama saat membandingkan detail alien yang muncul pertama kali dengan yang datang belakangan.
Alien di desa seharusnya berperan penting membangun ketakutan atas ketidakpastian. Visualnya saat pertama dimunculkan langsung meruntuhkan ekspektasi.
Satu-satunya pelampung di tengah kejenuhan alur adalah selipan komedi gelap yang mendarat di titik tak terduga. Na Hong-jin menjadikannya cermin kecemasan kolektif manusia akan hal asing.
Kepanikan menghadapi hal asing dimanfaatkan menyentil banyak hal, dari lambannya kinerja aparat yang relevan di negara mana saja, sampai kebingungan Bum-seok soal aturan senjata api. Aktor Eum Moon-suk dan Hwang Seok-jeong memaksimalkan unsur komedi dengan jatah tampil seadanya.
Panggung komedi satir ini sering dicuri para karakter lansia yang meski muncul sepintas, ketangguhan dan kisahnya menarik perhatian. Jung Ho-yeon tampil ekspresif sepanjang film.
Durasi 156 Menit dan Janji Sekuel
Dengan durasi 156 menit, Hope semestinya punya ruang lapang merapikan benang kusutnya. Kenyataannya, konflik dibiarkan bergulir tanpa juntrungan dan menambah tumpukan misteri tanpa niat memberi kepastian hingga menit akhir.
Pilihan ini membuat paruh kedua bertele-tele dan berujung pada penyelesaian cerita yang tidak memuaskan, bahkan terkesan konyol. Na Hong-jin tampaknya mengambil langkah nekat dengan membiarkan narasi utamanya berlubang demi menggelar karpet merah untuk proyek sekuel yang naskahnya sudah selesai digarap.
Hope tetap layak disaksikan untuk melihat ambisi Na Hong-jin mencoba keluar dari zona nyaman thriller psikologisnya. Catatan pentingnya, babak pertama yang solid belum cukup menutup masalah di paruh kedua.