JAYAPURA — Pacific Islands Forum Secretariat (PIFS) menyatakan kehadiran para pemimpin Forum di UNGA81 menjadi momen penting untuk memperkuat posisi kawasan di panggung multilateral. Pertemuan itu mengangkat isu yang dinilai menjadi pusat masa depan Pasifik, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman kenaikan permukaan laut.
Presiden Palau Surangel Whipps Jr. bersama sejumlah pemimpin Forum lainnya akan memimpin pertemuan tingkat tinggi PIF di New York. Agenda yang dibawa merupakan prioritas bersama yang telah disepakati pada Pertemuan Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik ke-55 di Palau awal bulan ini.
Dialog tahunan para pemimpin PIF dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 24 September. Pertemuan itu menjadi forum tetap antara kawasan Pasifik dan pucuk pimpinan PBB.
Isu yang diangkat mencakup perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, tata kelola laut, pembiayaan pembangunan, serta ancaman yang semakin meningkat akibat kenaikan permukaan laut. Kelima isu itu dinilai saling terkait dan menjadi penentu arah kebijakan kawasan.
Dalam pernyataannya, PIFS menegaskan posisi yang akan dibawa para pemimpin ke forum global.
"Para Pemimpin Forum akan menegaskan pentingnya sistem multilateral yang responsif terhadap prioritas Pasifik dan realitas kehidupan kita."
Upaya mengadvokasi Fasilitas Ketahanan Pasifik (Pacific Resilience Facility/PRF) menjadi inti keterlibatan para pemimpin di Majelis Umum PBB. Target pendanaan yang dibidik mencapai US$500 juta pada akhir tahun ini.
PIFS menilai langkah tersebut tepat waktu karena kawasan sedang membangun momentum menuju Pra-COP31 di Fiji dan Tuvalu pada Oktober, lalu COP31 di Turki pada November. Kedua forum itu menjadi panggung lanjutan bagi Pasifik untuk menekan komitmen pendanaan iklim.
Sekretaris Jenderal PIF Baron Waqa menyatakan pesan Forum kepada PBB sudah jelas. Menurutnya, tantangan kawasan tidak bisa dipisahkan dari tantangan global yang dihadapi bersama.
"Tantangan yang dihadapi kawasan kita tidak dapat dipisahkan dari tantangan global yang kita hadapi. Kita harus beralih dari komitmen ke implementasi, dari kerentanan ke ketahanan, dan dari respons yang terfragmentasi ke kemitraan internasional yang lebih kuat dan koheren yang memberikan manfaat bagi rakyat kita," kata Waqa.
Bagi warga Pasifik, termasuk di wilayah Papua yang berbatasan langsung dengan kawasan tersebut, hasil advokasi di New York akan menentukan seberapa besar dukungan internasional untuk program ketahanan iklim dan pembiayaan pembangunan di tingkat komunitas.