PAPUA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan awal Ramadan 1448 Hijriah jatuh pada 8 Februari 2027 berdasarkan tiga kriteria kalender Hijriah yang berbeda. Peneliti BRIN Thomas Djamaluddin menyebut kriteria MABIMS, Turki/KHGT, dan Ummul Quro Arab Saudi kompak menunjuk tanggal yang sama. Keseragaman ini berpotensi tidak berlanjut saat penetapan Idul Fitri.
Perhitungan astronomi yang dipaparkan Thomas Djamaluddin menunjukkan bahwa pada saat maghrib 7 Februari 2027, kriteria MABIMS telah terpenuhi di wilayah Indonesia. Kriteria ini mensyaratkan tinggi Bulan minimal 3 derajat dan elongasi geosentrik atau jarak sudut Bulan-Matahari minimal 6,4 derajat saat Matahari terbenam.
Thomas menuangkan analisis tersebut dalam blog pribadinya pada Jumat (19/6). Menurutnya, kriteria Turki yang digunakan dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) juga terpenuhi pada waktu yang sama, dengan syarat tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat.
Kalender Ummul Quro yang dipakai Arab Saudi menghasilkan tanggal serupa. Kalender ini menggunakan kondisi Bulan saat Matahari terbenam di Arab Saudi, dengan kriteria umum posisi Bulan berada di atas ufuk.
Kriteria MABIMS yang berlaku di Indonesia, kriteria Turki/KHGT, dan kalender Ummul Quro Arab Saudi sama-sama menetapkan 1 Ramadan 1448 H pada 8 Februari 2027. Kalender KHGT Muhammadiyah yang sudah diterbitkan juga mencantumkan tanggal yang sama.
Thomas menulis dalam blognya: "Pada saat maghrib 7 Februari 2027, kriteria MABIMS telah terpenuhi di Indonesia, maka 1 Ramadhan 1448 H menurut kriteria MABIMS: 8 Februari 2027."
Kondisi ini tergolong jarang. Perbedaan kriteria antarnegara biasanya membuat awal bulan Hijriah tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama. Untuk Ramadan 1448 H, posisi Bulan pada 7 Februari 2027 kebetulan memenuhi ketiga kriteria sekaligus.
Keseragaman yang terjadi di awal Ramadan diprediksi tidak berlanjut ke penetapan 1 Syawal 1448 H. Perhitungan Thomas menunjukkan saat Matahari terbenam pada 8 Maret 2027, kondisi Bulan belum memenuhi kriteria MABIMS di Indonesia.
Berdasarkan kriteria MABIMS, 1 Syawal 1448 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 10 Maret 2027. Sementara pada tanggal yang sama, kondisi Bulan telah memenuhi kriteria Turki/KHGT sehingga 1 Syawal jatuh pada Selasa, 9 Maret 2027.
Kriteria Ummul Quro juga menghasilkan tanggal 1 Syawal yang sama dengan KHGT, yakni 9 Maret 2027. Artinya, Ramadan 1448 H dapat dimulai bersama-sama pada 8 Februari, tetapi tanggal Idul Fitri berpotensi berbeda satu hari.
Thomas menegaskan tanggal 8 Februari 2027 masih merupakan hasil perhitungan astronomi, bukan penetapan resmi awal Ramadan oleh pemerintah Indonesia. Praktik rukyat atau pengamatan hilal yang dilaksanakan di Indonesia maupun Arab Saudi tetap dapat menghasilkan keputusan berbeda dari tanggal yang tercantum dalam kalender.
Penetapan resmi awal Ramadan di Indonesia biasanya menunggu sidang isbat yang digelar Kementerian Agama dengan melibatkan hasil hisab dan rukyat. Perbedaan metode hisab antarorganisasi, seperti yang terjadi antara pemerintah dan Muhammadiyah, kerap menghasilkan tanggal yang berbeda meski berangkat dari data astronomi yang sama.
Untuk Ramadan 1448 H, tiga kriteria utama kalender Hijriah dunia menunjuk 8 Februari 2027 sebagai awal puasa. Namun penetapan final tetap bergantung pada hasil rukyat dan keputusan resmi pemerintah saat mendekati waktu tersebut.