Harga Perak Antam Bertahan Rp 38.600, Beda Arah dengan Dunia

Penulis: Sofyan Basri  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:36:01 WIB
Harga perak Antam bertahan di Rp 38.600 per gram pada perdagangan Selasa (20/10/2026).

PAPUA — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mematok harga perak di Rp 38.600 per gram pada perdagangan Selasa (20/10/2026), tidak berubah dibandingkan sehari sebelumnya. Posisi Antam justru berlawanan dengan harga perak dunia yang menguat 0,61 persen ke US$ 57,42 per ons dan harga emas Antam yang melemah.

Perak batangan Antam tetap dibanderol Rp 38.600 per gram. Angka itu sama dengan perdagangan sehari sebelumnya, meski pasar global bergerak ke arah sebaliknya. Antam juga menawarkan perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen bagi pembeli yang membutuhkan bahan baku.

Untuk ukuran besar, perak batangan 250 gram dipatok Rp 10.175.000 dan kemasan 500 gram dibanderol Rp 19.425.000. Harga tersebut diambil dari laman logam mulia milik Antam.

Mengapa Perak Dunia Justru Menguat

Di pasar internasional, perak tercatat naik 0,61 persen menjadi US$ 57,42 per ons. Pergerakan itu terjadi di tengah tekanan yang seharusnya menekan harga logam mulia.

Harga minyak yang tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur memicu kekhawatiran inflasi baru. Iran juga terus menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran yang krusial bagi pasokan energi global.

Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Dua faktor itu biasanya membuat logam mulia kurang menarik karena tidak memberikan bunga.

Pasar kini menanti keputusan Federal Reserve pekan depan. Sekitar 94 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Desember, sementara Bank Sentral Eropa diperkirakan menambah satu kenaikan 25 basis poin tahun ini.

Emas Tertekan, Perak Ikut Datar

Harga emas dunia melemah tipis pada perdagangan Senin (19/10/2026). Di pasar spot, emas turun 0,5 persen menjadi US$ 4.143,91 per ons, sedangkan kontrak berjangka pengiriman Desember turun 0,4 persen ke US$ 4.163,30 per ons.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,6 persen. Kenaikan itu membuat sebagian investor mempertimbangkan beralih ke pasar obligasi ketimbang logam mulia.

"Ada kekhawatiran bahwa bank sentral harus memperketat kebijakan lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi, yang kembali mendorong kenaikan imbal hasil obligasi," ujar analis di Forex.com, Fawad Razaqzada.

Menurut dia, pesan hawkish dari The Fed berpotensi melemahkan emas dalam jangka pendek. Berdasarkan perangkat FedWatch dari CME, peluang The Fed menahan suku bunga bulan ini sebesar 82,8 persen, dengan ekspektasi kenaikan pada Desember tetap di angka 90 persen.

Harga Minyak Turun Sedikit Redakan Inflasi

Harga minyak turun dari level tertinggi lima bulan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pengecualian sanksi dan tarif terhadap Rusia. Langkah itu berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar dari negara tersebut.

Penurunan harga minyak sedikit meredakan kekhawatiran inflasi, menyusul data Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen AS yang kuat pekan lalu. Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen menyebut level resistensi utama emas berada di US$ 4.235, dengan dukungan di bawah US$ 4.100.

Di antara logam lainnya, perak di pasar spot naik 0,4 persen menjadi US$ 57,24 per ons, platinum menguat 1 persen ke US$ 1.646 per ons, dan paladium naik 0,8 persen menjadi US$ 1.121,14 per ons.

Bagi investor ritel di dalam negeri, harga perak Antam yang datar memberi kepastian biaya di tengah gejolak pasar global. Namun selisih arah dengan harga dunia menunjukkan harga Logam Mulia lebih dipengaruhi kurs rupiah dan kebijakan penetapan Antam ketimbang pergerakan harian pasar internasional.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top