JAYAPURA — Keberhasilan Korea Selatan memanfaatkan budaya populer melalui fenomena Hallyu disebut menjadi pelajaran penting bagi Papua. Demikian disampaikan Putri Natalia A. I. Mandang, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Cenderawasih, dalam tulisannya yang dimuat Suarapapua.com.
Menurut Putri, kekuatan suatu negara di era globalisasi tidak lagi hanya diukur dari kemampuan militer atau ekonomi. Budaya, seperti yang ditunjukkan Korea Selatan lewat musik K-Pop, drama, hingga gaya hidup, kini menjadi sumber pengaruh yang mampu menciptakan kedekatan emosional dengan masyarakat internasional.
Potensi Besar yang Belum Tergarap
Papua memiliki kekayaan budaya luar biasa yang diakui dunia. Noken, misalnya, telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, identitas Melanesia yang khas menjadi ciri pembeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Namun, budaya Papua selama ini lebih sering dipandang sebagai tradisi lokal atau objek pariwisata semata. “Jika dikelola dengan baik, budaya Papua dapat menjadi sumber pengaruh yang kuat di tingkat nasional maupun internasional,” tulis Putri.
Platform Digital Jadi Jalan Baru
Di era media sosial, peluang memperkenalkan budaya Papua semakin terbuka lebar. Generasi muda Papua dapat memanfaatkan YouTube, TikTok, dan Instagram untuk memperkenalkan musik, seni, dan identitas Melanesia yang khas. Jika Korea Selatan memiliki Hallyu, Papua dinilai memiliki potensi membangun pengaruh budaya yang unik dan berkarakter.
Contohnya, musik Papua bisa diperkenalkan melalui platform digital global, festival budaya bisa dijadikan sarana diplomasi internasional, dan karya seni dapat dipromosikan sebagai identitas kreatif masyarakat Papua.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski potensinya besar, Papua masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan pembangunan, akses media, dan kurangnya dukungan terhadap industri kreatif lokal menjadi kendala utama. Putri menekankan, pengembangan soft power Papua membutuhkan dukungan pemerintah, pendidikan budaya bagi generasi muda, serta kesempatan lebih besar bagi seniman dan kreator lokal untuk berkembang.
“Dengan begitu, dunia tidak hanya mengenal Papua melalui isu konflik atau ketertinggalan, tetapi juga melalui kekayaan budaya dan kreativitas masyarakatnya,” pungkasnya.