JAYAPURA — Festival Film Papua 2026 resmi digelar pada 7-9 Agustus mendatang di Kota Jayapura, bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Sedunia. Festival ke-8 yang diselenggarakan Papuan Voices ini mengangkat tema “Alam dan Kehidupan Manusia Papua” untuk menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat Papua, mulai dari pendidikan, sosial budaya, hingga lingkungan hidup.
Ruang Dialog dan Kampanye untuk Masyarakat Adat
Ketua Papuan Voices Nasional, Straky Yali, menegaskan bahwa festival ini menjadi medium untuk menghadirkan kisah-kisah nyata dari pinggiran Tanah Papua. “Kami percaya hutan, sungai, dan tanah adat bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga warisan budaya, sejarah, dan identitas yang harus dijaga,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor Papuan Voices, Sabtu (25/7/2026).
Straky berharap festival mampu memperkuat kepedulian publik serta mendorong penghormatan terhadap hak masyarakat adat. Menurutnya, film dokumenter menjadi alat merekam pengalaman, membuka dialog, dan menyampaikan suara tentang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, lingkungan, serta hak-hak adat.
Workshop Arsip Digital dan Mitra Lembaga HAM
Ketua Panitia Festival Film Papua sekaligus Sekretaris Papuan Voices, Max Wayeni, menjelaskan bahwa rangkaian acara tidak terbatas pada pemutaran film. “Ada forum diskusi untuk mengkaji isu internal dan isu terkini di Papua, serta workshop pengarsipan audiovisual, penelusuran metadata, dan pengelolaan arsip digital,” katanya.
Workshop tersebut melibatkan sejumlah mitra, termasuk organisasi Witness, LBH Papua, LBH Merauke, Greenpeace, dan jaringan lainnya. Pada puncak perayaan 9 Agustus juga akan diadakan panggung hiburan sebagai penutup.
Film Diputar Serentak di Delapan Wilayah Papua
Bidang Pemutaran Papuan Voices Jayapura, Imen Rounsumbre, menyampaikan bahwa pemutaran film tidak hanya berlangsung di Asrama Liborang, Padang Bulan, Kota Jayapura, tetapi juga di sejumlah wilayah jaringan Papuan Voices. Ia menyebut tujuh wilayah utama, yakni Keerom, Wamena, Serui, Fakfak, Sorong, Nabire, Paniai, dan Biak. “Beberapa wilayah lainnya juga akan bergabung,” katanya.
Festival ini terbuka untuk masyarakat umum, khususnya generasi muda. “Kami mengajak masyarakat untuk hadir sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan memahami persoalan Papua melalui film dokumenter,” ujar Imen.