PAPUA — Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Volkswagen, Thomas Schäfer, dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Schäfer secara gamblang mengatakan bahwa ID. Golf—nama sementara untuk Golf EV—tidak lagi menjadi prioritas jangka pendek. “Kami tidak membutuhkannya secepat itu,” ujarnya, dikutip dari Autocar.
Alasan di Balik Penundaan Hatchback Listrik Golf
Menurut Schäfer, permintaan pasar terhadap mobil listrik di Eropa belum tumbuh secepat yang diperkirakan VW. Alih-alih memaksakan jadwal, pabrikan asal Jerman ini memilih mengalokasikan sumber daya ke model yang lebih mendesak. Salah satunya adalah ID.2, hatchback listrik murah yang dijadwalkan meluncur lebih dulu.
“Kami harus realistis dengan kapasitas produksi dan adopsi pasar,” tambah Schäfer. VW juga tengah fokus menyelesaikan masalah perangkat lunak pada arsitektur SSP (Scalable Systems Platform) yang menjadi basis Golf EV.
Dampak untuk Pasar Global dan Indonesia
Penundaan ini berarti Golf EV baru akan hadir paling cepat 2029. Di Indonesia, dampaknya tidak langsung terasa karena VW belum mengimpor model listrik Golf secara resmi. Namun, bagi penggemar setia Golf—yang sempat dijual di Indonesia hingga generasi ke-7—kabar ini menunda harapan melihat hatchback legendaris itu kembali dalam wujud EV.
Kompetitor seperti MG4 EV dan BYD Dolphin sudah lebih dulu menguasai segmen hatchback listrik di bawah Rp 500 juta di pasar lokal. Dengan mundurnya Golf EV, celah itu semakin lebar.
Fakta Singkat: Nasib Golf EV
- Jadwal awal: debut 2028
- Jadwal baru: akhir dekade (2029 atau lebih)
- Penyebab utama: permintaan pasar lebih lambat dari proyeksi + masalah perangkat lunak SSP
- Model prioritas VW sekarang: ID.2 (hatchback murah) dan ID. Buzz
- Status di Indonesia: belum ada konfirmasi impor resmi
Platform SSP: Tulang Punggung yang Bermasalah
Golf EV direncanakan menggunakan arsitektur SSP yang juga dipakai oleh model-model VW Group lainnya. Tapi pengembangan platform ini tertunda karena masalah stabilitas perangkat lunak. VW sempat memecat kepala divisi perangkat lunak Cariad tahun lalu setelah proyek molor.
Tanpa SSP yang matang, Golf EV tidak bisa diproduksi massal dengan fitur OTA (over-the-air) dan arsitektur 800 volt yang dijanjikan. VW memilih menunggu daripada meluncurkan produk setengah matang.
Apa Artinya bagi Pemilik Golf Saat Ini?
Bagi pemilik Golf berbasis mesin bensin di Indonesia—baik Golf GTI maupun Golf 1.4 TSI—tidak ada dampak langsung. Penundaan ini murni menyangkut model listrik, bukan penghentian dukungan suku cadang untuk Golf lawas. VW Indonesia tetap menjual layanan purnajual untuk model-model yang sudah beredar.
Namun, jika Anda menunggu Golf EV sebagai calon pembeli, bersiaplah menunggu setidaknya lima tahun lagi. Sampai saat itu, pilihan hatchback listrik di Indonesia masih didominasi merek China dan Korea.