JAYAPURA — Keterbatasan infrastruktur kelistrikan masih menjadi persoalan akut di pedalaman Papua. Kabupaten Mamberamo Raya menjadi salah satu daerah dengan rasio elektrifikasi paling rendah. Pelaksana tugas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua, Karsudi, menyebutkan dari total 60 kampung di kabupaten tersebut, hanya 13 kampung yang sudah berlistrik.
Dari jumlah itu, kata Karsudi, hanya dua titik yang teraliri listrik dari jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). "Sebelas kampung lainnya mendapat pasokan listrik melalui program Pemerintah Provinsi Papua," ujarnya di Jayapura, Selasa.
Dua Sumber Energi Andalan: Surya dan Mikrohidro
Pemprov Papua tidak bisa hanya mengandalkan jaringan PLN untuk menjangkau kampung-kampung terisolasi di Mamberamo Raya. Medan berat dan jarak antarkampung yang berjauhan menjadi kendala utama. Karsudi menjelaskan, selama ini pihaknya lebih banyak mendorong penggunaan panel surya sebagai solusi instan.
"Namun, ke depan Pemprov Papua juga akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan memanfaatkan aliran sungai Mamberamo," kata Karsudi. Sungai Mamberamo yang melintasi wilayah tersebut dinilai memiliki potensi debit air yang stabil sepanjang tahun.
Biaya Capai Rp1,7 Triliun untuk 212 Kampung
Program Papua Terang 2030 menargetkan seluruh kampung di Provinsi Papua bisa menikmati listrik. Data Dinas ESDM mencatat, secara keseluruhan terdapat 999 kampung yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota. Dari jumlah tersebut, 789 kampung sudah berlistrik, sementara 212 kampung lainnya masih gelap.
Untuk merealisasikan target itu, Karsudi mengakui dibutuhkan anggaran sekitar Rp1,7 triliun. "Hal itu bisa tercapai dengan dukungan pemerintah pusat," imbuhnya.
Kunjungan Gubernur ke Mamberamo Raya
Persoalan kelistrikan di Mamberamo Raya mendapat perhatian langsung dari Gubernur Papua Mathius D Fakhiri. Sebelum pernyataan resmi ini dirilis, Karsudi bersama gubernur telah melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Mamberamo Raya pada Minggu (17/5). Kunjungan itu menjadi sinyal bahwa daerah yang dikenal dengan hamparan hutan lebat dan sungai besar ini menjadi prioritas dalam peta jalan elektrifikasi Papua.
Kehadiran listrik di kampung-kampung terpencil tidak hanya soal penerangan. Warga bisa mengakses layanan kesehatan di malam hari, anak-anak bisa belajar, dan aktivitas ekonomi seperti pengolahan hasil hutan dan perikanan darat bisa berjalan lebih optimal.