JAYAPURA — Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menyajikan peringatan keras tentang masa depan Papua. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yoseph Yapi Taum, dalam tulisannya mengibaratkan pembukaan hutan di Papua seperti membuka Kotak Pandora.
“Yang membuka kotak itu bukan seorang perempuan mitologis, melainkan negara, investor, dan oligarki. Mereka datang membawa kata-kata yang terdengar mulia: swasembada pangan, ketahanan energi, hilirisasi, kemajuan nasional,” tulis Yoseph.
Namun, menurut dia, yang keluar dari kotak itu bukan kesejahteraan, melainkan militerisasi, perampasan tanah, pengungsian, trauma, dan ancaman pemusnahan budaya.
Skala Proyek: Lebih Luas dari Yogyakarta
Pemerintah menargetkan pembukaan 2,5 juta hektar hutan Papua untuk proyek industri pangan dan energi. Areal seluas 25.000 kilometer persegi itu bahkan mendekati ukuran negara Belize.
Rinciannya, 1,3 juta hektar untuk sawah baru, 560.000 hektar untuk tebu, 400.000 hektar untuk sawit program biodiesel B50, dan 380.000 hektar untuk peternakan. Sepuluh perusahaan telah memperoleh konsesi, sebagian besar terhubung dengan konglomerat besar.
Ironisnya, tanah yang diwariskan leluhur selama ribuan tahun disebut dihargai hanya Rp 300.000 per hektar — harga yang nyaris tak cukup untuk membeli satu karung beras.
56.000 Personel Militer dan 103.000 Pengungsi
Di Papua kini ditempatkan sekitar 56.000 personel militer. Rasio kehadiran aparat mencapai satu tentara untuk setiap 100 orang Papua, jauh di atas rata-rata nasional yang sekitar satu tentara untuk 696 penduduk.
Sebagai perbandingan, kekuatan bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) diperkirakan hanya 1.430 personel dengan 360 senjata. Film dokumenter tersebut menyebut sebagian besar kehadiran aparat digunakan untuk mengawal proyek-proyek strategis nasional dan investasi perkebunan.
Pada 2025, Dewan Gereja Papua mencatat sedikitnya 103.000 orang mengungsi akibat konflik dan operasi keamanan. Wilayah Nduga menyumbang sekitar 20.000 jiwa.
Hutan sebagai Ibu yang Terancam
Yoseph menuliskan keyakinan turun-temurun masyarakat Papua: hutan adalah ibu. Ia memberi makan, melindungi, menyembuhkan, dan menyimpan jejak para leluhur. Ketika seorang anak Papua lapar, ia masuk ke hutan. Ketika seorang perempuan hendak melahirkan, hutan menyediakan obat.
“Maka ketika buldoser pertama menancap di tanah adat, yang sedang dibuka bukan hanya lahan. Yang sedang dibongkar adalah peradaban,” tulisnya.
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengingatkan bahwa pola yang sama pernah terjadi pada suku Indian di Amerika, bangsa Aborigin di Australia, hingga tragedi di Jalur Gaza. “Papua bukan pengecualian. Papua adalah bab terbaru dari sejarah panjang kolonialisme modern,” kata Yoseph. Gelombang pengungsian sebesar itu, menurut dia, nyaris tak menjadi berita utama media nasional.