JAYAPURA — Kilas Budaya Papua 2026 resmi dibuka di Taman Budaya, Kota Jayapura, pada Selasa (14/7/2026). Acara selama tiga hari ini menampilkan tarian dari berbagai daerah yang tidak sekadar hiburan, melainkan juga sarat pesan sejarah dan adat istiadat.
Tarian "Matinya Taban Nimrod": Kisah Raja Mer dan Konflik Keluarga
Sanggar Tari Youtefa membawakan tarian persatuan berjudul "Matinya Taban Nimrod" yang diangkat dari cerita rakyat masyarakat Enggros-Tobati di Kota Jayapura. Kepala Sanggar Tari Youtefa, Ria Alfred Drunyi, menjelaskan tarian ini berkisah tentang Raja Mer yang memiliki 11 putra dan seorang putri bernama Safu.
Konflik bermula ketika putra sulung raja, Yase, menikahi adik kandungnya sendiri. Peristiwa itu memicu perselisihan besar dalam keluarga. "Yase harus meninggalkan keluarganya dan menyerahkan haknya sebagai penerus takhta," kata Alfred Drunyi.
Yase kemudian pindah ke Nus Mont dan akhirnya membuka pemukiman yang berkembang menjadi Kampung Injros. Melalui tarian ini, masyarakat diajak memahami pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, kesatuan, dan keharmonisan dalam hidup bersama.
Tradisi Penyambutan Anak Desa Pulang Merantau dari Waropen
Sanggar Tari Rafaiby dari Desa Riseisayati, Kabupaten Waropen, menampilkan tarian penyambutan anak desa yang pulang dari perantauan. Ketua sanggar, Jhon Ramandey, mengatakan tarian itu menggambarkan kebahagiaan masyarakat saat menyambut kedatangan warga yang kembali ke kampung halaman.
"Dalam prosesi adat tersebut, warga menyanyikan lagu selamat datang, kemudian mengajak anak yang baru datang untuk menginjak piring sebagai simbol bahwa ia tetap menjadi bagian dari anak adat," jelas Jhon Ramandey. Prosesi dilanjutkan dengan pemasangan kalung tradisional manik-manik dan mahkota sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan kembali masyarakat adat.
Tarian tersebut dibawakan oleh 20 orang penari dari Desa Riseisayati yang dikenal sebagai kawasan Waropen Seribu Bakau.
Perdana di Panggung Provinsi: Suku Bauzi Tampilkan Seruling Bambu dan Tarian Perdamaian
Perwakilan Suku Bauzi dari Kabupaten Mamberamo Raya, Matias Alle, menyatakan keikutsertaan kelompoknya pada Kilas Budaya Papua 2026 merupakan momentum bersejarah. "Kemunculan kami ini merupakan kesempatan pertama bagi masyarakat Bauzi untuk menampilkan budaya kami pada kegiatan kebudayaan tingkat Provinsi Papua," ujar Matias Alle.
Salah satu simbol kehormatan dalam tradisi suku Bauzi adalah seruling bambu yang selalu digunakan dalam berbagai upacara adat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Tarian yang ditampilkan menggambarkan kehidupan masyarakat Bauzi, mulai dari penyambutan tamu, penyambutan pemburu yang kembali membawa hasil buruan, hingga perayaan adat setelah menyelesaikan konflik antar suku tanpa menimbulkan korban jiwa.
Dalam pertunjukan tersebut, dua anak yang berada di barisan depan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya yang diturunkan secara turun temurun. Sebanyak 25 orang terlibat dalam pertunjukan sebagai wujud komitmen komunitas Bauzi untuk terus melestarikan identitas budayanya.
"Kilat Budaya Papua ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan tradisi serta pentingnya melestarikan budaya sebagai identitas masyarakat Papua," pungkas Matias Alle.