Pencarian

Motor Listrik Program MBG Diduga Markup hingga Rp 1 Triliun, Mirip Produk China yang Jauh Lebih Murah

Jumat, 05 Juni 2026 • 03:15:01 WIB
Motor Listrik Program MBG Diduga Markup hingga Rp 1 Triliun, Mirip Produk China yang Jauh Lebih Murah
Pengadaan motor listrik program MBG diduga mengalami markup hingga Rp 1 triliun.

PAPUA — Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejaksaan Agung, Syarief Sulaeman Nahdi, menyatakan bahwa kerugian negara terjadi akibat penyusunan kerangka acuan kerja (KAK) yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil. "Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp 1 triliun. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu tidak sesuai ketentuan dan adanya markup," ujarnya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Markup harga terjadi di hampir setiap pos pengadaan. Selain motor listrik, penggelembungan anggaran juga ditemukan pada pembelian 32 ribu pasang sepatu yang nilainya mencapai Rp 1 triliun.

Kemiripan dengan Motor China yang Dijual Rp 8 Jutaan

Sejak pertama kali beredar, motor listrik yang digunakan dalam program MBG langsung menuai kontroversi. Dua model yang mencuat adalah motor trail EMMO JVX GT dan skuter EMMO JVH Max. Keduanya disebut-sebut identik dengan produk asal China yang dijual dengan harga jauh lebih murah.

Motor trail EMMO JVX GT, misalnya, sangat mirip dengan Kollter ES1-X PRO. Di platform Alibaba, motor tersebut dibanderol sekitar Rp 10 jutaan per unit. Bahkan, jika membeli dua unit sekaligus, harganya anjlok menjadi Rp 8 jutaan per unit.

Sementara itu, skuter EMMO JVH Max yang dipasarkan seharga Rp 48 jutaan di Indonesia disebut identik dengan motor listrik 'white label' bikinan Tizhou Okla Automotive dari Zhejiang, China. Di laman marketplace, motor Okla dijual mulai dari US$ 2.185 atau sekitar Rp 37 jutaan. Perbedaan harga mencapai lebih dari Rp 10 juta per unit.

Kemiripan antara EMMO JVH Max dan motor Okla terlihat nyaris sempurna, mulai dari desain headlamp, windshield, spatbor, hingga detail fairing dan lampu sein. Tak ada perbedaan signifikan yang bisa membenarkan selisih harga tersebut.

Praktik Rebranding White Label: Biasa Saja atau Bermasalah?

Mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, membantah adanya pelanggaran. Ia mengklaim motor listrik tersebut dijual di berbagai negara dengan nama berbeda. "Motor ini di Eropa ada merek lain, sejenis tapi dengan merek yang berbeda. Kalau di Eropa namanya Tinbot. Di Eropa dan Kanada, karena itu satu jenis," kata Dadan saat masih menjabat, April lalu.

Namun, praktik rebranding motor 'white label' dari China memang sudah lazim di industri kendaraan listrik Indonesia. Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, menyebut hal itu sebagai praktik umum. "Justru lebih mudah menyebutkan yang murni rancang bangun dari lokal Indonesia, seperti GESITS, MAKA dan QUEST," ujarnya.

Menurut Hendro, sebagian besar motor listrik yang beredar di Indonesia merupakan hasil rebranding dari produk 'white label' China. Meski begitu, beberapa pabrikan mulai memproduksi komponen lokal seperti rangka, body, dan velg. Persoalannya, dalam kasus pengadaan MBG ini, harga jual yang dipatok justru jauh di atas harga pasar produk serupa.

Kejagung masih mendalami dugaan markup ini dan siapa saja pihak yang terlibat dalam penyusunan anggaran yang dinilai tidak wajar tersebut.

Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks