PAPUA — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi kisaran 3,75-4% dalam rapat FOMC, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan bulat 12-0 itu langsung mengangkat dolar AS ke Rp 17.753 dan menopang Bitcoin di kisaran US$ 76.442.
Rupiah dan Ringgit Paling Tertekan
Data Bloomberg Kamis (17/9/2026) pukul 13.18 WIB menunjukkan dolar AS menguat 0,50% terhadap ringgit Malaysia ke MYR 4,0967/US$. Terhadap rupiah, dolar AS berada di level Rp 17.753 atau menguat 0,32%. Tekanan serupa dialami won Korea yang melemah 0,49% ke KRW 1.383,1/US$, dong Vietnam melemah 0,04% ke VND 25.596/US$, dan dolar Taiwan melemah 0,27% ke TWD 31,86/US$.
Peso Filipina juga terdepresiasi tipis 0,02% ke PHP 62,7450/US$. Sebaliknya, yuan China justru menguat 0,02% ke CNY 6,7074/US$, dolar Singapura menguat 0,18% ke SGD 1,275/US$, yen Jepang menguat 0,44% ke JPY 155,58/US$, dan baht Thailand menguat 0,13% ke THB 33,33/US$.
Bitcoin Ikut Terangkat ke US$ 76.442
Harga Bitcoin pada Kamis (17/9/2026) berada di kisaran US$ 76.442 atau setara Rp 1,35 miliar dengan kurs Rp 17.749. Berdasarkan pantauan CoinMarketCap sekitar pukul 12.06 WIB, BTC naik 1,05% dalam 24 jam terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai US$ 1,53 triliun, naik 0,8%.
Volume perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir tercatat US$ 30,34 miliar, turun 21,79%. Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC.
Alasan The Fed Masih Buka Peluang Kenaikan Lagi
The Fed memberi sinyal masih ada peluang menaikkan suku bunga lagi hingga akhir tahun demi meredam inflasi. Suku bunga acuan naik 25 basis poin ke kisaran 3,75-4% dalam pertemuan Rabu (16/9).
"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata Federal Open Market Committee (FOMC) dikutip dari CNBC, Kamis (17/9).
Apa Artinya bagi Investor Indonesia
Penguatan dolar AS ke Rp 17.753 membuka ruang tekanan lanjutan bagi aset berdenominasi rupiah. Investor obligasi negara dan saham berkapitalisasi besar biasanya paling cepat merespons pergerakan ini. Di sisi lain, kenaikan Bitcoin menunjukkan sebagian dana global masih mencari aset alternatif di tengah ketidakpastian arah bunga The Fed.
Pelaku pasar menanti apakah Bank Indonesia akan merespons pelemahan rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan pada rapat berikutnya. Sinyal lanjutan dari FOMC soal kemungkinan kenaikan hingga akhir tahun akan jadi katalis utama pergerakan kurs dan IHSG dalam beberapa pekan ke depan.