SENTANI — Sejumlah ruang kelas dan laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP Negeri 1 Kemtukgresi tidak lagi memiliki kursi, meja, dan bangku yang layak. Para murid mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai, di atas meja cor beton berkeramik putih, atau berbagi kursi dengan teman sekelas.
Kondisi itu terlihat di ruang laboratorium IPA sekolah tersebut. Meja cor beton yang menyatu dengan struktur dinding tidak dilengkapi peralatan uji atau alat peraga. Ketika kursi dan meja tak cukup menampung seluruh murid, meja beton itu pun berubah fungsi menjadi tempat duduk.
Murid Berbagi Kursi hingga Duduk di Lantai
Di kelas IX, dua siswa menyimak pelajaran sambil bersandar di dinding kelas bercat hijau yang penuh coretan. Beberapa siswa lain duduk dengan saling berbagi kursi, sementara sisanya menempati meja.
Martince Hamongkwarong, siswa kelas VII, menyebut kelasnya hanya memiliki lima bangku untuk 17 orang. Ia berasal dari Kampung Braso yang berjarak sekitar 10 kilometer dan harus merogoh ongkos ojek Rp50 ribu per hari untuk sampai ke sekolah.
"Seperti tadi, kami tidak ada guru kelas. Di dalam kelas hanya ada lima bangku, sementara kami di kelas itu ada 17 orang. Kalau belajar, sebagian kami duduk di atas meja, dan yang lain duduk di lantai," ujar Hamongkwarong.
Atap Bocor, Plafon Hilang, Pintu Kelas Tak Bisa Ditutup
Langit-langit hampir seluruh ruang kelas dan koridor telah rusak berat. Plafon berlubang atau hilang, sementara beberapa daun pintu kelas tak lagi ada sehingga ruangan tidak bisa ditutup.
Saat musim hujan, seng atap yang bocor membuat air mengucur langsung ke dalam ruang kelas. Kegiatan belajar mengajar pun kerap terhenti.
"Di kelas IX, Kakak kelas itu yang paling hancur karena sudah tidak ada plafon dan seng nya sudah bocor jadi air hujan tembus langsung kedalam," kata Hamongkwarong.
Guru Sebut Pembelajaran Terbatas pada Teori
Navalia, guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Kemtukgresi, menyebut para murid sudah terbiasa dengan situasi itu. Ia mengajar di sekolah tersebut sejak dua tahun lalu dan sebelumnya bertugas di salah satu sekolah di Distrik Kaureh dengan kondisi yang ia nilai lebih buruk.
"Saya sebelumnya mengajar di salah satu sekolah di Distrik Kaureh, situasi jauh lebih buruk," kata Navalia yang ditemui di sela kegiatan mengajar.
Meski proses belajar tetap berjalan, Navalia mengakui laboratorium di sekolahnya jauh dari ideal. Menurutnya, tanpa alat peraga dan fasilitas ajar lain, materi yang tersampaikan hanya sebatas teori atau lisan.
"Dampaknya bisa kita, ketahui, [pelajaran yang tersampaikan] hanya teori atau sebatas lisan. Siswa perlu fasilitas pendukung seperti alat peraga dan juga fasilitas ajar yang lainnya, apalagi ini laboratorium," katanya.
Laboratorium Komputer Jadi Satu-satunya Ruang Layak
Dari seluruh fasilitas di SMP Negeri 1 Kemtukgresi, hanya laboratorium komputer yang terbilang layak. Ruangan itu bisa dikunci dan relatif aman karena setiap jendela dilengkapi jeruji besi.
Meja, kursi, dan bangku di ruang laboratorium komputer juga lengkap. Komputer di dalamnya masih berfungsi dan sering dipakai dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk untuk mengikuti ujian nasional.
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kemtukgresi, Yesaya Nero, menjelaskan bahwa sebagian besar kursi, bangku, dan meja di sekolah yang dipimpinnya rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi. Menurutnya, sarana dan prasarana pengajaran awalnya dalam kondisi baik dan lengkap, namun rusak seiring waktu.
SMP Negeri 1 Kemtukgresi menjadi sekolah tujuan anak usia sekolah dari berbagai kampung di Distrik Kemtukgresi. Keterbatasan fasilitas membuat para siswa di wilayah itu tidak punya banyak pilihan selain tetap masuk sekolah dengan kondisi apa adanya.