PAPUA — Perusahaan antariksa dan AI milik Elon Musk, SpaceX, baru saja mencatatkan rekor baru di pasar modal global. IPO yang berlangsung pada Jumat lalu di bursa Nasdaq berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 85,7 miliar — angka yang belum pernah diraih oleh perusahaan mana pun dalam sejarah IPO.
Spacex mengalokasikan sebagian besar dana IPO untuk melunasi utang sekitar USD 20 miliar. Utang tersebut berasal dari pinjaman lama yang terkait dengan X (sebelumnya Twitter) dan perusahaan AI milik Musk, xAI. Kedua entitas itu telah digabungkan ke dalam struktur SpaceX sebelum IPO berlangsung.
Sisa dana akan digunakan untuk memperluas infrastruktur komputasi AI, meningkatkan fasilitas peluncuran roket, serta mengembangkan Starlink — layanan internet satelit yang sudah beroperasi di banyak negara termasuk Indonesia.
Saham SpaceX resmi diperdagangkan di Nasdaq pada Jumat pekan lalu. Pada hari pertama, valuasi perusahaan langsung menembus angka USD 2 triliun. Kenaikan berlanjut pada Senin berikutnya, membuat kapitalisasi pasar SpaceX melampaui TSMC, raksasa semikonduktor asal Taiwan.
Dengan lonjakan valuasi ini, Elon Musk resmi menjadi manusia pertama di dunia yang menyandang status triliuner — setidaknya di atas kertas — berdasarkan kepemilikan sahamnya di SpaceX.
Sebelum opsi pembelian saham maksimal oleh underwriter, SpaceX telah mengumpulkan USD 75 miliar. Angka itu sendiri sudah cukup untuk menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah. Setelah opsi dieksekusi penuh, total dana yang diraup membengkak menjadi USD 85,7 miliar.
Belum ada IPO lain yang mendekati angka tersebut. Sebagai perbandingan, IPO Alibaba pada 2014 mengumpulkan USD 25 miliar, sementara SoftBank meraup USD 23,5 miliar pada 2018.
Meskipun IPO ini tidak langsung berdampak pada harga perangkat konsumen, pendanaan besar ini mempercepat pengembangan Starlink dan infrastruktur AI SpaceX. Bagi pengguna internet di Indonesia, Starlink sudah mulai beroperasi dan bisa menjadi alternatif koneksi broadband di daerah terpencil. Ekspansi layanan Starlink kemungkinan akan dipercepat berkat suntikan dana IPO ini.
Selain itu, investasi di komputasi AI juga berpotensi melahirkan layanan atau aplikasi baru yang memanfaatkan teknologi milik xAI dan SpaceX — meskipun detail produk konsumen dari integrasi ini belum diumumkan secara resmi.