PAPUA — Penawaran saham perdana (IPO) Space Exploration Technologies Corp (SpaceX) senilai USD 75 miliar mengubah peta kekuatan di antara perusahaan-perusahaan milik Elon Musk. Pada Jumat (12/6), valuasi SpaceX menembus USD 2 triliun, secara resmi menyalip kapitalisasi pasar Tesla Inc yang berada di angka sekitar USD 1,5 triliun. Langkah ini memecah dominasi Tesla yang selama ini menjadi satu-satunya pilihan investasi ritel untuk bertaruh pada portofolio bisnis Musk.
Investor Ritel Berbondong-bondong ke Saham "Bintang Baru"
Sebelum IPO SpaceX, investor ritel hanya bisa berinvestasi di bisnis Musk melalui saham Tesla. Kini, SpaceX hadir dengan portofolio yang lebih luas: dari kecerdasan buatan (AI) hingga perjalanan luar angkasa. Portofolio ini langsung menarik perhatian di saat fundamental Tesla tengah melemah dan penjualan mobil listriknya lesu.
"AI adalah EV (kendaraan listrik) yang baru. SpaceX adalah bintang baru yang paling bersinar saat ini," ujar Viraj Patel dari Vanda Research, seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (13/6). Patel menambahkan bahwa arus investasi ritel ke Tesla sempat kuat di pagi hari, namun langsung teralihkan begitu saham SpaceX mulai diperdagangkan.
Loyalis Musk Taruh Harapan Besar di Luar Angkasa
Visi ambisius Musk dan kesuksesan saham Tesla yang telah melesat sekitar 25.000 persen sejak IPO-nya pada 2010 membangun basis investor ritel yang loyal. Analis BNP Paribas, James Picariello, memperkirakan pada April lalu bahwa investor ritel menguasai sekitar 40 persen saham Tesla. Menjelang IPO SpaceX, para penggemar Musk bahkan telah memasang pesanan pembelian saham senilai USD 100 miliar.
Banyak dari mereka berharap SpaceX dapat mencatat pertumbuhan yang setara atau melampaui Tesla, mengingat ambisi bisnis perusahaan yang mencakup eksplorasi ruang angkasa dan AI. Namun, SpaceX juga berpotensi menghadapi kekhawatiran yang sama soal valuasi yang selama bertahun-tahun membayangi Tesla.
Valuasi USD 2 Triliun: Wajar atau Terlalu Awal?
"Saat ini hanya ada sekitar 15 perusahaan di dunia yang memiliki valuasi mencapai USD 1 triliun," kata penasihat investasi Guardian Wealth Advisors, Rand Millwood. "Jika melihat perusahaan-perusahaan tersebut, sebagian besar sudah berdiri sejak lama. Mereka sangat sukses, menghasilkan arus kas positif, dan memiliki berbagai faktor pendukung lainnya, sementara SpaceX belum berada pada posisi itu," lanjutnya.
Untuk menghindari perebutan perhatian investor, sebagian analis menilai merger antara Tesla dan SpaceX mungkin terjadi di masa depan. Kedua perusahaan memiliki irisan bisnis di bidang AI, robotika, dan mobilitas, serta dipimpin oleh sosok yang dikenal sering mengambil langkah korporasi tidak lazim. Namun, Millwood justru melihat keberadaan beberapa perusahaan publik milik Musk bisa saling menguntungkan.
"Ada begitu banyak keterkaitan di antara seluruh perusahaan milik Elon Musk. Banyak orang menganggap dia sebagai jenius pada era ini, dan mungkin memang demikian sampai batas tertentu. Karena itu, apa pun perusahaan yang melibatkan dirinya, orang-orang akan ingin menjadi bagian dari perusahaan tersebut," pungkas Millwood.