TELUK BINTUNI — Sebanyak 57 kampung di Kabupaten Teluk Bintuni mengirimkan dua perwakilannya untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Indeks Desa Membangun (IDM) yang digelar Bidang Administrasi Pemerintahan setempat. Kegiatan yang berlangsung di Aula Sanggar Kampung Banjar Ausoy, Rabu (17/6/2026), ini bertujuan memperbarui data sekaligus mengukur kondisi riil dan perkembangan kampung secara akurat.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Teluk Bintuni, Haris Tahir, menginstruksikan langkah tegas demi menegakkan disiplin penginputan data. “Kalau tidak input data, tahan Dana Desa saja ya Pak Kabid,” tegas Haris kepada Kepala Bidang Administrasi Pemerintahan Agus Wiratno.
Instruksi ini menyusul penurunan partisipasi penginputan yang mencapai 51 persen dalam setahun terakhir. Dari total 107 kampung, hanya separuhnya yang aktif mengirimkan data pada 2025.
Agus Wiratno meluruskan anggapan keliru di masyarakat yang menganggap pembangunan fisik rumah sebagai satu-satunya penentu kemajuan desa. Menurutnya, faktor utama kenaikan kelas suatu wilayah diukur dari pertumbuhan ekonomi, mutu pendidikan, kesehatan, dan akses infrastruktur.
“Masyarakat sering kali berpikir bahwa membangun rumah sudah cukup untuk menjadikan kampung berkembang. Padahal yang menentukan kemajuan kampung adalah pertumbuhan ekonomi, peningkatan pelayanan sosial dasar, pendidikan, kesehatan, serta akses infrastruktur yang memadai,” terang Agus saat memberikan pemaparan.
Potret terkini menunjukkan sebagian besar kampung di Teluk Bintuni masih menyandang status sangat tertinggal dan tertinggal. Dari total 107 kampung, tercatat baru 8 kampung berstatus berkembang, 5 kampung maju, dan hanya Kampung Banjar Ausoy yang menyandang status mandiri.
Instrumen penilaian IDM mencakup tiga indikator utama: pelayanan sosial dasar, ekonomi, dan infrastruktur. Indikator konkretnya meliputi keberadaan Poskesdes atau Posyandu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), penanganan stunting, akses pasar, kios, layanan perbankan, hingga kondisi jalan penghubung.
Pemkab Teluk Bintuni memberikan fasilitas pendampingan selama satu minggu bagi 57 kampung yang mengikuti gelombang pertama bimtek. Setiap kampung mengutus dua orang perwakilan, yakni kepala kampung dan operator, untuk memastikan proses penginputan data final segera rampung.
“Dari IDM, kita bisa melihat apakah suatu kampung berstatus sangat tertinggal, tertinggal, berkembang, maju, atau mandiri. Jika masih tertinggal, kita ingin mengetahui permasalahan yang dihadapi sehingga dapat dicarikan solusi yang tepat,” ujar Agus.