JAYAPURA — Pembimbing Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kemenag Papua I Wayan Wira Adnyana menegaskan bahwa esensi Galungan harus terwujud dalam sikap nyata di berbagai lingkungan, bukan hanya di pura. Ia mendorong umat untuk menerapkan kemenangan dharma, atau kebaikan, dalam interaksi di rumah, sekolah, kantor, dan tengah masyarakat.
"Galungan bukan hanya ritual semata, tetapi bagaimana esensi ajaran itu diterapkan dalam kehidupan. Kemenangan dharma harus tercermin dalam sikap di rumah, di sekolah, di kantor, maupun di tengah masyarakat," kata Wira.
Menurutnya, perayaan ini menjadi pengingat akan pentingnya tiga keseimbangan: hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Ia menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Papua I Komang Alit Wardana menambahkan, Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma, atau kemenangan kebaikan atas keburukan. Ia mengajak umat untuk menjadikan momen ini sebagai titik refleksi memperkuat spiritualitas dan keyakinan.
"Galungan adalah hari kemenangan dharma melawan adharma, kemenangan kebaikan dan kebenaran atas hal-hal yang tidak baik," ujarnya.
Alit Wardana menekankan, umat Hindu perlu memiliki kemampuan memilah informasi serta menjaga pikiran, perkataan, dan tindakan agar tetap berlandaskan kebenaran. Menurutnya, pikiran yang baik akan melahirkan perkataan baik dan membentuk jiwa kerohanian yang kuat.
Seruan menjaga toleransi ini relevan dengan kondisi Papua yang memiliki keragaman suku dan agama. Kemenag Papua berharap nilai-nilai Galungan dapat memperkuat kerukunan antarumat beragama di Bumi Cenderawasih.
Wira mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk tidak bersatu. "Kita mungkin tidak selalu bersatu dalam keimanan, tetapi kita bisa bersatu dalam nilai-nilai kemanusiaan," pungkasnya.