MIMIKA — Suasana haru dan sukacita menyelimuti Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, saat dua kubu yang selama ini berseberangan—kelompok Dang dan kelompok Newegalen—menyatakan damai. Prosesi adat yang dipimpin oleh para kepala perang (Wai mum) ini menjadi puncak dari rangkaian mediasi yang sempat macet beberapa waktu lalu.
Puncak perdamaian ditandai dengan pematahan anak panah oleh kedua kepala perang. Simbol ini menandakan berakhirnya permusuhan dan tidak akan ada lagi serangan balasan. Usai ritual adat, Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, dan Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Teuku Jozanda, melakukan penembakan sebagai tanda perdamaian resmi diterima oleh negara.
"Saya mau hari ini jadi hari yang bahagia untuk kita semua, kubu atas dan kubu bawah. Hari ini kita fokus perdamaian," ujar Kapolres Billyandha di hadapan ratusan warga yang hadir.
Bupati Mimika Johannes Rettob dengan tegas meluruskan narasi publik yang menyebut konflik ini sebagai perang suku. Menurutnya, pertikaian yang terjadi adalah murni persoalan antar dua keluarga besar yang harus diselesaikan secara kekeluargaan.
"Saya tidak bilang itu perang suku, tidak ada. Ini adalah perang antar keluarga. Nah, sekarang kita tutup perang ini. Mari kita baik-baik antar keluarga kita semua," kata Johannes.
Bupati mengakui bahwa upaya damai sebenarnya sudah dirintis sebelumnya, namun belum tuntas. Pertemuan Rabu kemarin menjadi langkah lanjutan untuk memastikan komitmen kedua pihak benar-benar dipegang teguh. Ia meminta seluruh perwakilan keluarga menandatangani kesepakatan sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Dalam sambutannya, Bupati Johannes menyentuh sisi kemanusiaan yang dalam. Ia mengingatkan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan menguras generasi Papua sendiri.
"Kita ini sedikit. Masa kita baku bunuh sendiri? Semakin kurang orang kita ini," ujarnya lirih di hadapan para tetua adat dan tokoh masyarakat.
Pernyataan senada disampaikan Kapolres Billyandha. Meski bukan orang Papua, ia mengaku memiliki kecintaan yang besar terhadap tanah Papua dan tidak ingin melihat warganya terus menjadi korban.
"Semakin banyak perang semakin banyak korban. Nanti habis orang Papua. Saya bukan orang Papua, tapi saya cinta Papua," ungkapnya.
Kapolres mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghapus dendam yang selama ini menjadi pemicu utama konflik. Ia menekankan bahwa prosesi perdamaian harus dijalani dengan sukacita dan tanpa beban masa lalu.
"Kita laksanakan prosesi perdamaian dengan sukacita. Tidak ada dendam di antara kita," tegas Billyandha.
Bupati Johannes berharap perdamaian ini menjadi titik balik bagi Kwamki Narama. Menurutnya, situasi yang kondusif akan membuka ruang lebih lebar bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
"Semoga hari ini menjadi berkat bagi kita semua. Semoga hari ini menjadi momen baru untuk Kwamki Narama dan pembangunan untuk kita semua," pungkasnya.