PAPUA — Pertemuan dua anomali iklim itu diprediksi para peneliti dapat mengacaukan pola cuaca global maupun regional. Indian Ocean Dipole (IOD) sendiri merupakan selisih suhu permukaan antara Samudra Hindia tropis bagian barat dan timur, yang memengaruhi curah hujan serta angin di negara-negara sekitar Samudra Hindia.
Mengapa IOD Positif Sering Menyusul El Nino
Ahli pemodelan iklim dari Institut Meteorologi Tropis India, Ankur Srivastava, menyebut sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu oleh El Nino yang datang terlambat di musim panas India. Pola itu, menurutnya, terjadi lagi tahun ini.
Dampak pertemuan keduanya di Asia Selatan tidak seragam. Srivastava menegaskan hasil akhirnya bergantung pada kekuatan masing-masing fenomena dan ada tidaknya anomali cuaca lain pada periode yang sama.
Monsun India Sudah Defisit, IOD Bisa Jadi Penawar
Monsun India sempat mengalami defisit curah hujan akibat El Nino, terutama sepanjang Juli dan Agustus. Jika IOD positif tumbuh cukup kuat, fenomena itu bisa memompa kelembapan dan menetralkan defisit tersebut di penghujung musim.
Sebaliknya, bila IOD positif tidak menguat hingga akhir musim panas, India berisiko menghadapi kekeringan berkepanjangan. Departemen Meteorologi India mengonfirmasi efek El Nino sudah mendominasi sejak awal monsun, sehingga potensi pemulihan dari IOD positif kemungkinan terbatas pada akhir musim saja.
El Nino yang sangat kuat juga dapat memicu jeda monsun panjang. Kondisi itu menaikkan risiko banjir bandang dan tanah longsor ketika hujan intensitas tinggi turun mendadak.
"Himalaya dan kaki bukitnya tetap sangat rentan terhadap curah hujan dan tanah longsor yang berdampak tinggi, bahkan di musim yang lebih kering dari rata-rata," kata Srivastava, melansir Nature, Selasa (8/9).
Prediksi Makin Rumit karena Banyak Faktor
Swadhin Behera dari Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) menjelaskan sulitnya memprediksi cuaca akibat gabungan El Nino dan IOD di wilayah India. Penyebabnya, sejumlah proses saling berinteraksi.
Selain kedua fenomena itu, curah hujan monsun India juga dipengaruhi interaksi permukaan darat-atmosfer, dataran tinggi Himalaya-Tibet, Madden-Julian Oscillation (MJO), dan proses regional lain.
"Peran gabungan ENSO dan IOD pada monsun India tidak sederhana. Hal ini terjadi melalui rantai kompleks hubungan pola cuaca atmosfer dan samudra serta interaksi mereka dengan proses regional," ujar Behera.
Pengaruh ENSO ke Monsun India Kembali Menguat
Studi JAMSTEC menemukan pengaruh ENSO terhadap curah hujan monsun musim panas India kembali meningkat pada dekade ini. Sebelumnya, pada dekade-dekade terdahulu, pengaruh itu relatif lemah.
Ilmuwan iklim JAMSTEC, Kalpesh Ravindra Patil, menambahkan pengaruh IOD sangat bervariasi menurut waktu dan wilayah. Berbeda dengan sinyal ENSO yang belakangan muncul kembali.
Studi yang sama mengidentifikasi sinyal samudra signifikan dari Samudra Hindia bagian selatan dan timur. Sinyal itu khususnya memengaruhi curah hujan di India selatan dan barat.
Indonesia dan Australia Berisiko Lebih Kering
Ross Salawitch dari University of Maryland menyatakan dampak persinggungan El Nino dan IOD positif berbeda-beda menurut wilayah. Di Australia dan Indonesia, efek gabungan keduanya relatif mudah diukur.
Kombinasi itu akan memperparah kondisi yang lebih panas dan kering, sehingga menaikkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebaliknya, IOD positif sering membawa kondisi lebih basah dari rata-rata dan meningkatkan risiko banjir untuk Afrika Timur, seperti Etiopia dan Somalia.
"Mereka cenderung saling memperkuat, dengan dampak yang sangat bervariasi menurut wilayah," jelas Salawitch.