PAPUA — Startup hypercar baru bernama Sanrivatti belum mengungkap spesifikasi mesin atau partner teknik. Tapi mereka sudah punya satu gebrakan yang cukup bikin penasaran: posisi berkendara yang disebut Apex Position. Konsep ini memadukan gaya duduk ala pengendara motor MotoGP dengan ergonomi mobil super.
Dalam konsep ini, pengemudi tidak duduk seperti biasa. Posisi tubuh lebih condong ke depan, kaki ditarik ke belakang, dan badan merendah—mirip saat Valentino Rossi atau Marc Marquez melesat di lintasan. Sanrivatti mengklaim posisi ini memberikan sensasi terbang rendah yang mendekati pengalaman superbike, tapi dengan empat roda dan kabin tertutup.
“Kami ingin menghadirkan cara baru manusia berinteraksi dengan mobil,” kata Santiago Sánchez Rivero, pendiri dan CEO Sanrivatti, dalam rilis resmi. Rivero memulai karirnya di Donkervoort, pabrikan mobil sport ringan asal Belanda. Ia juga sudah merekrut eksekutif dari Bentley, Lotus, dan McLaren untuk mengembangkan proyek ini.
Menurut Sanrivatti, manusia sudah ribuan tahun menunggangi kuda, bukan duduk di kereta. Posisi duduk standar di mobil modern sebenarnya berasal dari era wagon. Mereka ingin mengembalikan insting alami manusia untuk “mengendarai” ketimbang “didudukkan”. Tentu, dengan empat roda, lutut tidak perlu menyentuh aspal. Tapi sensasi membelokkan mobil mid-engine dengan posisi tubuh seperti ini diyakini bisa memberikan kontrol dan kenikmatan yang berbeda.
Di era di mana setiap bulan muncul startup hypercar atau restomod baru, Apex Position menjadi pembeda yang jelas. Ibarat pintu gullwing Mercedes 300SL yang dulu lahir dari kebutuhan fungsi, posisi berkendara ini lahir dari kebutuhan untuk menonjol. Bedanya, kalau pintu gullwing dulu solusi teknis, Apex Position lebih ke pernyataan filosofi: bahwa cara manusia duduk di mobil belum berubah selama satu abad, dan sudah waktunya dirombak.
Sanrivatti masih dalam tahap konsep. Belum ada kepastian soal jantung mekanis, transmisi, atau sasis. Yang jelas, mereka ingin membuktikan bahwa hypercar tidak selalu soal tenaga gila atau aerodinamika rumit. Kadang, gebrakan paling sederhana—cara duduk—bisa jadi yang paling revolusioner.
Apakah Flying Dutchman versi hypercar ini benar-benar akan keluar dari kabut dan siap “ditunggangi”? Belum ada yang tahu. Tapi satu hal pasti: mereka sudah berhasil membuat kita bertanya ulang soal hal paling dasar dalam berkendara.