JAYAPURA — Angka kontraksi itu lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat minus 5,59 persen (yoy). Warsono menegaskan, perlambatan tersebut membutuhkan mitigasi sejak dini agar tekanan ekonomi tidak semakin parah.
“Oleh sebab itu dibutuhkan mitigasi-mitigasi sejak dini agar tekanan perekonomian di Tanah Papua tidak terlalu melandai,” katanya di Jayapura, Kamis.
Menurut Warsono, perlambatan kontraksi ekonomi justru ditopang oleh produksi tambang. Namun, sektor ini sempat terganggu dan menyebabkan penghentian sebagian blok produksi, yang berdampak langsung pada kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian.
Dari sisi inflasi, tekanan juga meningkat pada triwulan pertama 2026 dibandingkan triwulan sebelumnya. Lonjakan harga dipicu gejolak geopolitik global, peningkatan permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, serta cuaca yang kurang kondusihingga menurunkan produksi pangan lokal.
Kenaikan harga paling signifikan terjadi pada komoditas emas perhiasan dan kelompok pangan hortikultura. Namun, ada kabar baik dari sektor non-tambang. “Sektor konstruksi serta perdagangan besar dan eceran tercatat mengalami peningkatan kinerja dan turut menahan kontraksi ekonomi agar tidak lebih dalam,” ujar Warsono.
Dari sisi pengeluaran, tekanan ekonomi juga dipengaruhi kontraksi ekspor pasca berakhirnya kebijakan relaksasi serta gangguan produksi tambang. Meski begitu, konsumsi pemerintah masih tumbuh dan menjadi penopang aktivitas ekonomi.
Untuk menghadapi tantangan ini, Warsono menekankan pentingnya penguatan kapasitas petani dalam menghadapi perubahan cuaca. “Dorongan terhadap kemandirian pangan daerah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat,” katanya.
Sinergi antar pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat. Tujuannya jelas: menjaga ketersediaan pasokan pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan cuaca dan dinamika harga.
Upaya bersama ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pemulihan pertumbuhan di Tanah Papua. Data terbaru menunjukkan, sektor pertanian menjadi bantalan paling realistis di tengah tekanan sektor tambang yang fluktuatif.