JAYAPURA — Keberadaan burung kasuari di Tanah Papua kian terdesak. Satwa endemik yang menjadi penjelajah utama penyebar biji-bijian di hutan tropis ini kehilangan sumber makanan dan ruang hidup akibat alih fungsi lahan yang masif.
Berdasarkan catatan yang dihimpun Jubi, Papua memiliki kekayaan fauna burung yang luar biasa. Dari total 852 jenis burung yang telah didokumentasikan, sebanyak 717 jenis tercatat di kawasan Papua, termasuk 602 jenis burung yang bersarang di daratan dan 202 jenis endemis.
Para pakar ornitologi membagi burung kasuari di tanah Papua menjadi tiga spesies, yakni kasuari utara (Casuarius unappendiculatus), kasuari selatan, dan kasuari kerdil (Casuarius bennetti). Meski hidup di hutan yang sama, ketiga spesies ini nyaris tidak pernah saling bertemu.
Ronald G Petocz dalam bukunya berjudul Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya (Papua sekarang) menggambarkan kasuari sebagai burung tanpa sayap alias tidak bisa terbang (Cassuarius). Ia adalah jenis binatang paling besar yang berjalan di bawah pepohonan rimbun di hutan tropis Tanah Papua. Satwa ini juga ditemukan di Papua Nugini, Maluku (Pulau Seram dan Aru), serta Australia timur laut.
Dampak nyata dari hilangnya hutan tropis dirasakan langsung oleh warga Suku Masita di Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Sejak era 1990-an, jurnalis Jubi mencatat bahwa saat musim buah matoa tiba, kaum pemburu mulai mencari buruan berupa daging burung kasuari dan babi hutan.
Sayangnya, areal berburu mereka kini lenyap. Hutan adat di lembah Juk, Distrik Kaureh, telah berubah fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, burung kasuari kehilangan sumber makanan utama mereka, yaitu buah-buahan yang jatuh di bawah pohon.
Keunikan lain dari burung kasuari terletak pada perilaku reproduksinya. Kasuari betina yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar (berat mencapai 58 kg) bersifat poliandri atau memiliki banyak pasangan. Setelah musim kawin, betina akan pergi meninggalkan telurnya.
Seluruh tanggung jawab mengeram dan membesarkan anak diemban oleh kasuari jantan. Ia akan mengerami telur selama 50 hingga 60 hari, lalu merawat anak-anaknya hingga mandiri mencari makanan sendiri. Seekor kasuari betina bisa bertelur dua hingga empat butir, bahkan kadang hanya satu butir.
Ancaman terhadap habitat kasuari tak hanya terjadi di Jayapura. Di Papua Selatan, hilangnya 2,5 juta hektar hutan rawa (eucalyptus) yang dikonversi menjadi perkebunan membuat kasuari kian merana mencari ruang hidup yang tersisa. Kawasan rawa dan sabana yang menjadi habitat alami mereka kini terus menyusut.
Berbeda dengan kondisi di Indonesia, di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, telah dibangun Port Moresby National Papua Park di mana warga bisa melihat langsung ketiga spesies kasuari. Pemerintah PNG bersama masyarakat adat (landowners) juga mengembangkan kawasan konservasi untuk menarik investasi perdagangan karbon dunia.