PAPUA — Pertandingan yang berlangsung pada Selasa (7/7) itu menjadi panggung pahit bagi megabintang Portugal. Sundulan Merino memanfaatkan umpan silang di masa injury time membuat Estadio da Luz milik Benfica, yang menjadi tuan rumah laga tersebut, mendadak hening. Bagi Ronaldo, yang berusia 41 tahun saat itu, kekalahan ini berarti akhir dari perjalanannya di Piala Dunia 2026 tanpa mampu membawa Portugal melaju lebih jauh. Air mata sang kapten pun tak terbendung saat peluit panjang dibunyikan wasit.
Ini bukan pertama kalinya Merino menjadi algojo bagi legenda sepakbola dunia. Pada Euro 2024, tepatnya di babak perempatfinal melawan Jerman, ia menciptakan skenario yang nyaris identik. Sundulannya pada menit ke-119 waktu perpanjangan waktu membawa Spanyol menang 2-1. Laga tersebut secara tragis menjadi pertandingan terakhir Toni Kroos bersama Timnas Jerman. Sang gelandang maestro Jerman harus mengakhiri karier internasionalnya dengan kekalahan dramatis di kandang sendiri.
Dua momen heroik ini menempatkan Merino sebagai sosok yang kerap muncul di momen krusial. Kemampuannya membaca permainan dan menyelesaikan peluang di kotak penalti lawan menjadi senjata mematikan bagi La Roja. Dari bangku cadangan hingga menjadi starter, kontribusinya selalu signifikan, baik untuk tim nasional maupun klubnya, Arsenal.
Jalannya pertandingan melawan Portugal sebenarnya berjalan ketat. Kedua tim saling jual beli serangan, namun lini pertahanan masing-masing tampil disiplin. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, kemudian memasukkan Merino di babak kedua untuk menambah daya gedor. Keputusan itu terbukti tepat saat ia lolos dari kawalan bek Portugal dan menanduk bola masuk ke pojok gawang Diogo Costa.
Kemenangan ini membawa Spanyol melaju ke perempatfinal Piala Dunia 2026. Sementara bagi Portugal, mimpi untuk memberikan mahkota juara dunia kepada Ronaldo pun sirna sudah. Merino, dengan dua sundulan fatalnya dalam dua turnamen besar, telah memastikan namanya akan selalu dikenang sebagai pematah hati dua ikon sepakbola abad ini.