PAPUA — Selama dua tahun terakhir, RBI secara agresif membangun posisi bearish terhadap dolar AS untuk menopang rupee India yang terus tertekan. Kini, bank sentral tersebut harus menghadapi pekerjaan rumah yang rumit: membongkar posisi short dolar senilai lebih dari US$100 miliar tanpa mengganggu stabilitas mata uang.
Untuk menjaga rupee tetap stabil, RBI melakukan intervensi dengan menjual dolar AS dan membeli rupee di pasar spot. Akumulasi intervensi ini menciptakan posisi short dolar yang tercatat di neraca bank sentral. Langkah ini memang umum dilakukan negara berkembang untuk melawan tekanan depresiasi, namun skalanya kali ini tergolong besar.
“Posisi short dolar yang besar membuat RBI rentan terhadap pergerakan nilai tukar yang tiba-tiba,” ujar seorang analis valas yang enggan disebutkan namanya. “Jika dolar menguat tajam, biaya untuk menutup posisi ini bisa sangat mahal.”
Proses unwinding atau pembalikan posisi ini menjadi krusial. Jika RBI melakukannya terlalu cepat, aksi beli dolar besar-besaran bisa memicu depresiasi rupee yang lebih dalam. Sebaliknya, jika terlalu lambat, biaya yang ditanggung bank sentral akan terus membengkak.
Para pelaku pasar mencermati strategi RBI ke depan. Beberapa skenario yang mungkin dilakukan antara lain menjual obligasi pemerintah untuk menyerap likuiditas rupee, atau melakukan intervensi secara bertahap melalui pasar forward non-deliverable (NDF) untuk mengurangi tekanan langsung di pasar spot.
Langkah RBI ini juga berimplikasi bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Sebagai sesama negara berkembang, pergerakan rupee yang volatil kerap menular ke mata uang Asia lainnya, termasuk rupiah. Investor asing di pasar obligasi dan saham Indonesia juga akan memantau perkembangan ini sebagai salah satu indikator sentimen risiko.
Jika RBI gagal mengelola transisi ini dengan mulus, tekanan jual di pasar valas Asia bisa meningkat. Hal ini berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk kembali melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di level yang diinginkan.
Bagi investor dan pelaku bisnis, perkembangan ini menjadi sinyal untuk lebih waspada terhadap pergerakan dolar AS dan mata uang Asia. Fluktuasi nilai tukar yang tajam dapat berdampak langsung pada kinerja emiten yang memiliki utang dalam dolar atau yang bergantung pada impor.
Investasi mengandung risiko. Pemantauan terhadap data cadangan devisa India dan pernyataan pejabat bank sentral dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi kunci untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.