Transaksi QRIS di Papua Tembus Rp1,26 Triliun pada Triwulan I 2026, Tumbuh 9,03 Persen

Penulis: Reza Maulana  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00:31 WIB
Nilai transaksi QRIS di Papua mencapai Rp1,26 triliun pada triwulan I 2026, tumbuh 9,03 persen secara tahunan.

JAYAPURA — Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Warsono mengungkapkan pertumbuhan transaksi digital ini sejalan dengan meningkatnya jumlah pedagang yang menggunakan QRIS. Per triwulan pertama 2026, jumlah merchant QRIS di Papua tercatat tumbuh signifikan sebesar 17,71 persen secara tahunan.

"Selain merchant, jumlah pengguna QRIS juga terus bertambah meski dengan pertumbuhan yang lebih terbatas, yakni sebesar 0,03 persen secara tahunan," kata Warsono di Jayapura, Senin.

Volume Transaksi Capai 3,87 Juta Kali pada Mei 2026

BI mencatat perkembangan positif lainnya pada Mei 2026. Nilai transaksi QRIS pada bulan tersebut mencapai Rp502,4 miliar dengan volume transaksi sebanyak 3,87 juta kali. Angka ini menjadi indikator bahwa masyarakat Papua mulai beralih ke sistem pembayaran yang lebih cepat dan aman.

Warsono menambahkan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran nontunai semakin meningkat. "Perkembangan transaksi digital menjadi salah satu indikator meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap sistem pembayaran nontunai yang lebih cepat, mudah, dan aman," ujarnya.

BI Dorong Perluasan QRIS ke Sektor Ekonomi Lain

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran di Papua. Langkah strategis yang disiapkan adalah memperluas penggunaan QRIS ke berbagai sektor ekonomi, tidak hanya di pusat perbelanjaan modern tetapi juga di pasar tradisional dan pelaku UMKM.

"Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, penggunaan QRIS juga dinilai membantu pelaku usaha, khususnya UMKM, dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan keamanan transaksi tanpa menggunakan uang tunai," kata Warsono.

Dampak bagi UMKM dan Inklusi Keuangan di Papua

BI meyakini perluasan penggunaan QRIS dapat mendorong efisiensi transaksi dan memperluas inklusi keuangan di Papua. Dengan sistem nontunai, pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan kemudahan bertransaksi tetapi juga memiliki rekam jejak keuangan yang dapat digunakan untuk mengakses pembiayaan dari perbankan.

Pertumbuhan 9,03 persen ini menjadi sinyal positif bagi ekosistem ekonomi digital di Papua. Meski jumlah pengguna individu masih tumbuh tipis, peningkatan jumlah merchant yang signifikan menunjukkan bahwa sisi suplai—para pedagang—lebih siap mengadopsi teknologi ini dibandingkan permintaan dari konsumen.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: papua.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top