JAYAPURA — Aktivitas perdagangan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini kembali menggeliat. Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KPPBC Jayapura, Eston Erlangga, mengungkapkan bahwa lonjakan ekspor ini terjadi melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, yang berbatasan langsung dengan Provinsi West Sepik, PNG.
Data bea cukai menunjukkan, kebutuhan rumah tangga menjadi primadona ekspor dengan nilai mencapai Rp31,6 miliar. Disusul suku cadang otomotif sebesar Rp6,3 miliar yang menandakan tingginya mobilitas kendaraan di Papua Nugini.
“Kategori mesin dan barang elektronik tercatat Rp2,2 miliar, bahan konstruksi Rp2 miliar, dan kendaraan bermotor Rp679 juta. Bahkan, ada juga ekspor peti jenazah senilai Rp8 juta,” rinci Eston yang juga menjabat sebagai Humas KPPBC Jayapura, Senin lalu.
Menurut Eston, pasar PNG bukanlah tujuan akhir. Pemerintah melihat potensi besar bagi produk Indonesia untuk menembus negara-negara di kawasan Pasifik melalui jalur perdagangan ini. “Peluang ekspor ke PNG memang masih terbuka luas karena bisa juga merambah hingga ke negara di Pasifik,” ujarnya.
Untuk mendorong hal tersebut, KPPBC Jayapura menyediakan program pendampingan bagi para pengusaha. Program yang dinamai “klinik ekspor” ini dirancang untuk membantu pelaku usaha lokal yang ingin memulai atau memperluas pasar mereka ke luar negeri.
Pos Lintas Batas Negara Skouw di Kota Jayapura menjadi titik vital dalam rantai pasok ini. Keberadaan PLBN tidak hanya berfungsi sebagai pos pemeriksaan, tetapi juga sebagai katalis pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan. Lonjakan ekspor semester pertama ini menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi di perbatasan kian hidup dan memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM dan pengusaha di Tanah Papua.