JAYAPURA — Penemuan spesies burung baru di Papua New Guinea (PNG) menjadi tonggak penting bagi dunia konservasi. Burung yang hidup di darat dengan topeng hitam khas, tenggorokan putih, dan bulu cerah itu menghuni lanskap terjal antara Gunung Bosavi dan Gunung Karimui.
Faylin Tiki, Insinyur Lingkungan, Iklim & Regulasi ExxonMobil PNG Ltd, mengungkapkan temuan ini saat memaparkan inisiatif keanekaragaman hayati perusahaan pada hari kedua Pekan Sumber Daya PNG. Pihaknya menyebut penemuan ini sebagai salah satu yang paling menarik dalam sejarah terkini PNG.
“Seperti yang dirinci dalam sorotan kinerja lingkungan laporan, kami telah menyelesaikan tinjauan komprehensif terhadap program implementasi dan pemantauan keanekaragaman hayati 10 tahun kami,” kata Tiki. “Tonggak sejarah ini memberi kami kesempatan untuk merefleksikan kemajuan selama satu dekade sekaligus membantu membentuk prioritas keanekaragaman hayati kami untuk 50 tahun ke depan.”
Ia menambahkan, tim pemantauan perusahaan berkontribusi langsung pada pengakuan dan publikasi resmi Hooded Jewel-Blabber. “Ini sangat signifikan karena merupakan spesies burung baru pertama yang secara resmi dideskripsikan di PNG sejak kemerdekaan hampir 50 tahun yang lalu,” ujarnya.
Pulau New Guinea, yang terbagi antara PNG dan Papua Indonesia, memiliki kekayaan burung yang luar biasa. Hingga saat ini, tercatat 852 spesies burung telah didokumentasikan di Pulau New Guinea. Secara khusus, PNG memiliki lebih dari 400 spesies burung endemik, termasuk pulau-pulau lepas pantainya.
Beberapa spesies ikonik menghuni kawasan ini, seperti Burung Bower Berbulu Api, Burung Raja Surga Berkepala Cokelat, Astrapia Berekor Pita, dan Burung Cendrawasih Raggiana. Namun, para ahli mengingatkan bahwa hilangnya hutan tropis di Pulau New Guinea akan mengancam kehidupan fauna dan flora, termasuk kasuari dan burung tanah lainnya.
Penemuan Hooded Jewel-babbler menjadi pengingat bahwa di negara yang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya, masih banyak spesies yang perlu dipelajari dan dirayakan. (*)