MERAUKE — Masyarakat adat suku Marind menyebutnya ipni, ikan kakap rawa yang jadi primadona kuliner di Kota Rusa, Papua Selatan. Rasanya gurih, tekstur kulitnya kenyal seperti mengunyah karet. Namun, hidangan istimewa ini kini terancam hilang dari meja makan warga.
Penyebabnya bukan overfishing, melainkan perubahan bentang alam yang massif di daratan. Hutan bush, dusun sagu, dan savana berhektar-hektar dikonversi menjadi perkebunan dan kawasan produksi pangan berskala besar. Ekosistem rawa dan lahan basah yang menjadi rumah ikan kakap putih—nama resmi barramundi itu—kian menyempit.
Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional WALHI, menyebut konsentrasi titik api tinggi di dalam kawasan Food Estate sebagai temuan penting. Menurutnya, kebakaran yang berulang bukan peristiwa alam semata, melainkan dampak langsung perubahan bentang alam.
"Perubahan tutupan hutan, pembukaan lahan, pembangunan jaringan jalan, hingga pengeringan kawasan rawa dan lahan basah akan meningkatkan kerentanan suatu bentang alam terhadap kebakaran," ujar Uli Arta Siagian belum lama ini.
Papua Selatan yang didominasi hutan dataran rendah, rawa gambut, dan ekosistem basah sejatinya memiliki kemampuan alami menjaga kelembapan. Namun, saat dikonversi menjadi kawasan produksi skala besar, karakter ekologisnya berubah sehingga lebih mudah terbakar di musim kering, diperparah ancaman El Nino yang diprediksi terjadi pada 2026.
Rusaknya habitat asli di Merauke membuat ikan kakap putih bermigrasi ke kawasan Trans Fly, PNG. Wilayah itu masih sangat alami, berpenduduk jarang, dan sebagian besar dilindungi sebagai Lahan Basah Penting Internasional (Ramsar) melalui Tonda Wildlife Management Area.
Nelayan asal Bulukumba yang biasa beroperasi dari Pantai Lampu Satu, Merauke, mengaku kerap mencari ikan kakap putih hingga ke perairan PNG. Target utamanya bukan daging, melainkan gelembung ikan yang bernilai jual tinggi.
"Iya, kami sering mencari sampai ke PNG," katanya kepada Jubi.
Konsekuensinya fatal. Puluhan nelayan Indonesia ditangkap, bahkan ada yang ditembak mati di perairan PNG. Insiden terbaru terjadi pada 14 Juli lalu, tiga kapal nelayan asal Merauke dilaporkan tenggelam dan hilang di perairan Papua Nugini. Sekitar 18 anak buah kapal (ABK) belum diketahui nasibnya. Satu nahkoda, Basri dari KM Raditi Jaya, selamat setelah ditolong nelayan setempat.
Para perencana pembangunan kerap berdalih masih ada Taman Nasional Wasur, kawasan konservasi lahan basah terluas di Papua. Namun, di tengah perubahan iklim dan ekspansi perkebunan, ekosistem di luar taman nasional terus tergerus. Jika rantai makanan putus, bukan hanya ikan kakap rawa yang hilang, tapi juga sumber pangan dan identitas budaya masyarakat Marind yang telah bergantung pada ipni selama bergenerasi.