JAYAPURA — Enam instansi dan organisasi bergabung dalam tim pemantauan mitigasi bencana yang kini bekerja di kawasan Gunung Cycloop. Mereka terdiri dari BPBD, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Basarnas, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Dinas Lingkungan Hidup, dan WWF Indonesia, serta Pramuka Saka Wanabakti.
Tim gabungan fokus pada dua titik kritis: Sungai Kemiri dan Cagar Alam Cycloop. Di lokasi inilah longsor terjadi dan berpotensi menahan aliran air, lalu membentuk bendungan alami yang bisa jebol sewaktu-waktu.
Derek Timotius Wouw menekankan bahwa wilayah Sentani memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.
"Kami mendukung penuh apa yang dilakukan tim ini karena kegiatan ini memiliki satu tujuan, yaitu melihat dan mengamati secara langsung kondisi di kawasan Gunung Cycloop," katanya di Jayapura, Selasa.
Pemerintah daerah tidak akan mengambil keputusan tanpa data lapangan yang valid. Tim ini bertugas mengumpulkan data akurat tentang kondisi terkini titik longsor sekaligus menyusun rekomendasi mitigasi.
Derek menekankan pentingnya ketelitian dalam menyusun hasil kajian. Menurutnya, kesalahan dalam menganalisis kondisi alam dapat berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat, terutama jika potensi bencana tidak teridentifikasi secara tepat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah antisipatif Pemkab Jayapura bersama para pemangku kepentingan. Data yang terkumpul akan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi bencana di kawasan pegunungan Cycloop.