PAPUA — Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Billy Mambrasar, turun langsung mendampingi para fasilitator Kitong Bisa Foundation ke pelosok kampung. Ia menekankan pentingnya penyederhanaan konsep ekonomi agar mudah diterapkan oleh keluarga di Papua.
“Sebagai seorang ekonom, tugas saya adalah membahasakan teori ekonomi yang sulit menjadi pengetahuan yang sederhana. Keluarga di Papua perlu tahu cara mengatur pendapatan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang untuk tabungan pendidikan anak,” ujar Billy dalam keterangan yang diterima di Jayapura, baru-baru ini.
Menurut Billy, pemberian modal usaha tanpa dibekali kemampuan manajemen keuangan berisiko tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, TEKAD PBRT mengintegrasikan tiga komponen sekaligus: pelatihan kewirausahaan, pendampingan intensif, dan permodalan.
Program ini menyasar empat wilayah strategis di Provinsi Papua. Pendekatan HMS yang didorong IFAD membantu setiap keluarga memetakan aset yang dimiliki, mencatat pengeluaran harian, hingga menyusun target keuangan masa depan.
Pelatihan dilakukan secara interaktif melalui simulasi dan diskusi mengenai potensi ekonomi lokal. Kepala kampung dan tokoh masyarakat setempat memberikan respons positif terhadap perpaduan antara peningkatan kapasitas sumber daya manusia dengan dukungan modal usaha.
Menjangkau 79 kampung sasaran bukanlah perkara mudah. Tim fasilitator harus menempuh jalur darat berjam-jam dan menggunakan transportasi laut untuk mencapai wilayah kepulauan.
“Perjalanan menuju kampung-kampung tidak selalu mudah, ada yang harus ditempuh dengan perahu. Namun, semangat menghadirkan perubahan bagi masyarakat Papua menjadi kekuatan utama kami,” tambah Billy.
Billy berharap program TEKAD PBRT menjadi fondasi kuat bagi ketahanan ekonomi keluarga di Papua. “Keluarga yang kuat secara ekonomi akan menjadi fondasi bagi kampung dan daerah yang lebih sejahtera,” pungkasnya.
Ia mengapresiasi Direktorat Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal Kemendes PDT serta seluruh mitra yang terlibat dalam program ini. Ke depan, pola pendampingan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak kampung di Tanah Papua.