Rektor IHTP Papua Filep Wamafma Buka PKKMB 2026 di Manokwari, Tegaskan Kampus Bebas Kekerasan dan Perundungan

Penulis: Toni Haryadi  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 17:50:31 WIB
Ribuan mahasiswa baru mengikuti pembukaan PKKMB IHTP Papua di GOR Sanggeng, Manokwari, Senin (10/8/2026).

MANOKWARI — Ribuan mahasiswa baru mengikuti pembukaan PKKMB IHTP Papua yang berlangsung di GOR Sanggeng, Manokwari, Senin (10/8/2026). Momen ini menjadi pintu pertama bagi mereka untuk mengenal budaya akademik dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi kampus.

Filep Wamafma menekankan bahwa peran senior dan panitia sangat menentukan kesan pertama mahasiswa baru terhadap kehidupan kampus. Ia meminta mereka bertindak sebagai pembimbing, bukan pihak yang menekan atau merendahkan.

"Tidak ada lagi yang disebut dengan kekerasan atau yang kasar-kasar. Kita fair play. Kita harus menjunjung tinggi kejujuran, kewibawaan dan martabat kita," tegasnya di hadapan peserta dan panitia.

Larangan Keras Perundungan dan Kekerasan Verbal

Filep mengingatkan bahwa tradisi perpeloncoan yang kerap terjadi di sejumlah kampus tidak boleh mewarnai PKKMB di IHTP Papua. Ia meminta seluruh panitia membangun silaturahmi dengan mahasiswa baru, bukan justru menanamkan rasa takut.

"Mahasiswa senior dan panitia harus membimbing, membina dan membangun silaturahmi dengan mahasiswa baru. Jangan melakukan tindakan yang dapat merendahkan atau menyakiti," ujarnya.

Menurutnya, PKKMB bukan sekadar seremonial pengenalan lingkungan kampus. Kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter dan keteladanan yang akan menentukan bagaimana mahasiswa menjalani perkuliahan ke depan.

Menghapus Sekat Antarfakultas dan Prodi

IHTP Papua saat ini menaungi mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan, mulai dari hukum, ilmu pemerintahan, manajemen rekayasa, hingga teknik. Filep meminta keberagaman ini tidak menjadi sekat yang memisahkan mahasiswa.

"Di sini tidak ada mahasiswa hukum, tidak ada mahasiswa ilmu pemerintahan, tidak ada mahasiswa manajemen rekayasa. Di sini adalah mahasiswa Institut Ilmu Hukum dan Teknologi Pembangunan Papua," katanya.

Ia menilai perbedaan disiplin ilmu justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dalam menghadapi persoalan pembangunan di Tanah Papua. Rasa persaudaraan dan solidaritas harus dibangun sejak hari pertama.

Kampus Bukan Sekadar Tempat Mengejar Gelar

Filep juga mengingatkan bahwa kecerdasan akademik semata tidak cukup untuk membentuk sarjana yang berkualitas. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi.

"Mahasiswa harus mampu mengikuti perkembangan informasi dan teknologi, berpikir kritis, kreatif dan adaptif, serta mampu menciptakan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat," jelasnya.

Ia berharap mahasiswa baru tidak menjadikan kampus hanya sebagai tempat memperoleh gelar. Kampus harus menjadi ruang membangun karakter, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Jalani proses ini dengan sungguh-sungguh. Bangun persaudaraan, jaga nama baik diri sendiri dan institusi, serta jadilah mahasiswa yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat," pesannya.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: jagatpapua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top