PAPUA — Rekap penjualan GIIAS 2026 yang berlangsung di ICE BSD pekan lalu menyimpan satu cerita besar: dominasi angka Toyota tak lagi sejalan dengan pertumbuhan pasar. Sementara merek asal China—dari BYD, Wuling, hingga Chery—membukukan total lebih dari 21.000 SPK, Toyota harus puas dengan 6.175 unit. Selisihnya hampir tiga setengah kali lipat.
Angka ini bukan sekadar statistik pameran. Ia menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mulai berani pindah dari merek Jepang yang selama puluhan tahun menjadi pilihan aman. Pertanyaannya: apakah Toyota kehilangan daya tarik, atau justru sedang berada di fase transisi yang berbeda?
Kalau melihat data historis, performa Toyota di GIIAS sebenarnya tidak buruk. Pada 2023 mereka membukukan 5.796 SPK, naik ke 6.202 unit di 2024, lalu turun tipis ke 5.947 unit di 2025. Tahun ini, 6.175 SPK. Polanya naik-turun tipis, tidak pernah anjlok drastis.
Artinya, bukan jumlah pelanggan yang berkurang. Justru yang berubah adalah pilihan varian di dalam pembelian itu sendiri. Konsumen yang tetap setia ke Toyota kini mayoritas memilih versi elektrifikasi (xEV). Di GIIAS 2024, porsi xEV hanya 27 persen dari total SPK Toyota, sekitar 1.724 unit. Setahun kemudian naik ke 34 persen. Tahun ini melompat ke 56 persen—artinya lebih dari setengah pembeli Toyota di pameran memilih hybrid atau listrik.
Kontributor utama pergeseran ini tetap sama: Kijang Innova. Total 2.221 unit terjual, dan dari angka itu, 1.669 unit di antaranya adalah Innova Zenix Hybrid. Sekitar 75 persen dari seluruh Innova yang laku di GIIAS 2026 adalah versi hybrid. Ini bukan tren baru, tapi konsistensi yang patut diperhatikan.
Menariknya, New Hilux yang tampil perdana tahun ini langsung mencatatkan 345 SPK. Model pikap ini memang punya basis penggemar setia di segmen komersial, dan kehadirannya menambah variasi di tengah dominasi Innova.
Keberhasilan merek China mengumpulkan lebih dari 21.000 SPK tidak lepas dari strategi harga yang agresif dan elektrifikasi penuh. Berbeda dengan Toyota yang masih mengandalkan mesin konvensional di beberapa lini, pabrikan China datang dengan model listrik murni yang harganya bersaing langsung dengan mobil hybrid Jepang.
Ditambah lagi, insentif pemerintah untuk kendaraan listrik berbasis baterai membuat selisih harga semakin tipis. Konsumen yang tadinya ragu mencoba teknologi baru kini punya alasan finansial untuk pindah.
Penting dicatat bahwa SPK di pameran adalah indikator minat, bukan angka penjualan final. Banyak pemesanan yang batal atau dialihkan ke dealer setelah pameran usai. Namun, proporsi 3:1 tetap terlalu besar untuk diabaikan.
Bagi Toyota, data ini menjadi sinyal bahwa strategi "hybrid sebagai jembatan" mulai kehilangan daya tarik di mata konsumen yang sudah siap melompat langsung ke full electric. Sementara bagi konsumen, ini justru waktu yang tepat untuk menawar—kompetisi yang ketat biasanya diikuti oleh program promo yang lebih menarik.
Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Bansar Maduma, menyebut tingginya minat pada model elektrifikasi dan antusiasme terhadap New Hilux sebagai bukti kepercayaan pelanggan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kepercayaan itu kini terbagi ke banyak merek lain.