PAPUA — HyperX akhirnya masuk ke segmen headset open-back setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri aksesori gaming. Cloud Alpha Air adalah jawaban mereka atas tantangan teknis yang selama ini melekat pada desain open-back: menjaga kekuatan bass tanpa mengorbankan kelegaan panggung suara.
Masalah umum headphone open-back adalah hilangnya frekuensi rendah akibat desain yang lebih lega. HyperX menyiasatinya dengan teknologi Bass Tube yang dirancang untuk menyalurkan tekanan udara lebih efisien ke driver.
Hasilnya cukup impresif saat dijajal langsung. Dentuman bass terasa dalam dan terkontrol, bahkan mampu membuat lagu-lagu sederhana terdengar lebih hidup tanpa menutupi vokal dan frekuensi menengah. Di game tembak-menembak, respons bass yang dihasilkan membantu mempertegas suara langkah kaki dan ledakan.
Volume bawaan saat dicolok ke PC via kabel 3,5mm terasa sedikit rendah. Untuk hasil maksimal, HyperX menyertakan adapter USB atau pengguna bisa mengandalkan DAC eksternal miliknya sendiri. Aplikasi NGENUITY dari HyperX tetap tersedia untuk penyesuaian EQ dan profil suara.
Earcup ultrasuede dengan busa tebal memberikan sensasi rileks saat dipakai berjam-jam. Headband logam terasa kokoh dan mampu bertahan dari uji puntir sederhana. Desain keseluruhan dibuat minimalis—hanya ada volume wheel dan tombol mute, tanpa tombol lain yang membingungkan.
Yang menarik dari paket penjualannya, HyperX melengkapi Cloud Alpha Air dengan semua kabel yang mungkin dibutuhkan: kabel 3,5mm standar, kabel ekstensi PC dengan jack terpisah, adapter USB dengan konektor USB-A dan USB-C, plus pouch untuk penyimpanan saat bepergian.
Cloud Alpha Air dibanderol US$150 (sekitar Rp2,4 juta) dan dijadwalkan mulai dijual pada September. Saat ini headset baru tersedia dalam versi wired—belum ada opsi nirkabel. Saat ditanya kemungkinan versi wireless, perwakilan HyperX memilih bungkam.
Bersamaan dengan peluncuran ini, HyperX juga merilis varian warna baru untuk produk eksisting seperti Cloud III S, Cloud III Wired, dan Cloud Flight 2.
HyperX juga memperkenalkan mouse gaming paling ringan yang pernah mereka buat, Pulsefire Haste 3 Pro, dengan harga US$130 (sekitar Rp2,1 juta). Bobotnya hanya 47 gram berkat rangka carbon fiber, dan mengusung sensor Performance terbaru dengan DPI hingga 42.000 serta daya tahan baterai 150 jam di mode wireless.
Untuk opsi lebih hemat, ada Pulsefire Haste 3 Pro Model dengan harga US$90 (sekitar Rp1,5 juta) yang memakai sensor sama tapi rangka plastik lebih berat. Versi wired tersedia dengan harga US$40 (sekitar Rp660 ribu).
Cloud Alpha Air cocok untuk gamer yang ingin merasakan panggung suara lega khas open-back tanpa kehilangan kekuatan bass, terutama bagi mereka yang sering bermain game kompetitif dan butuh ketahanan nyaman untuk sesi panjang. Dengan paket aksesori selengkap itu di harga US$150, headset ini menjadi opsi menarik di kelasnya.