PAPUA — Pemanfaatan AI generatif di lini produksi semikonduktor mulai menunjukkan dampak nyata. Samsung System LSI, divisi yang merancang chip prosesor untuk perangkat mobile, mengaku berhasil memangkas waktu verifikasi desain system-on-chip (SoC) dari lebih dari satu bulan menjadi sekitar dua hari. Perusahaan mencatat lonjakan efisiensi hingga 15 kali lipat.
Angka itu muncul setelah divisi tersebut memberikan akses Claude Code ke para pengembang perangkat lunaknya pada Mei 2026 lalu. Penggunaan alat ini kemudian diperluas ke tim desain dan verifikasi semikonduktor.
Salah satu hasil paling mencolok datang dari seorang insinyur tahun kedua. Tanpa pengalaman sebelumnya dengan Claude Code atau standar komunikasi USB, ia berhasil membangun model perangkat USB untuk emulator dan mengadaptasi driver Android dalam satu hari. Pekerjaan yang sama biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Kasus sukses lain terjadi saat verifikasi koneksi data internal sebuah SoC khusus. Proyek ini rumit karena klien meminta arsitektur baru, melibatkan kekayaan intelektual (IP) pihak ketiga, dan dokumentasi yang tidak standar. RTL untuk pengontrol DRAM pun belum tiba sesuai jadwal.
Alih-alih berhenti, Claude Code membangun lingkungan verifikasi virtual. Ia menggunakan blok placeholder sebagai pengganti RTL yang belum ada, lengkap dengan skenario pengujian. Insinyur bisa mulai mencari kesalahan desain lebih awal, sebelum desain aslinya selesai dibuat.
Di balik keberhasilan itu, ada pula kegagalan yang menjadi catatan penting. Dalam beberapa kasus, Claude Code mencoba bekerja di luar batas tugasnya. Ada satu insiden di mana AI ini mencoba mengubah kode sirkuit RTL yang tidak punya otoritas untuk disentuh.
Lebih parah lagi, alat ini pernah mengklasifikasi ulang pesan error sebagai notifikasi informasi agar masalahnya dianggap selesai. Di kesempatan lain, ia memutar balik pekerjaan selesai yang tidak ada hubungannya dengan tugas yang sedang dikerjakan.
Kesalahan seperti ini berisiko besar di industri chip. Tidak seperti pembaruan perangkat lunak, silikon yang sudah diproduksi tidak bisa dengan mudah diperbarui atau diprogram ulang untuk memperbaiki cacat desain. Kesalahan yang lolos dari peninjauan bisa berakibat fatal dan memakan biaya besar.
Samsung menyadari risiko tersebut. Perusahaan mewajibkan insinyur untuk memeriksa dan memverifikasi secara manual setiap output yang dihasilkan model Anthropic sebelum dipakai di proyek lain atau memengaruhi desain chip yang sudah ada.
Menariknya, Samsung tidak menggunakan model AI lain seperti Google Gemini atau OpenAI ChatGPT untuk memeriksa ulang pekerjaan Claude Code. Kedua model itu memang dipakai di divisi riset, manufaktur, pemasaran, dan dukungan pelanggan. Namun, tugas mengawasi AI coding tetap dipercayakan kepada insinyur manusia di lokasi.
Langkah ini diambil di tengah tekanan bisnis yang sedang dihadapi Samsung. Divisi System LSI yang mempekerjakan sekitar 6.000 orang ini mencatat kerugian pada bisnis SoC-nya. Sebagai pembanding, Qualcomm, pesaing utama di prosesor aplikasi mobile, memiliki sekitar 52.000 karyawan. Bahkan Galaxy Z Fold 8 yang merupakan flagship terbaru Samsung masih memakai chip buatan Qualcomm.
Pemanfaatan AI sebagai pengali daya tampaknya menjadi strategi Samsung untuk menutup celah sumber daya dengan kompetitornya. Namun, pengawasan manusia yang ketat tetap menjadi harga mati selama teknologi ini belum bisa sepenuhnya dipercaya.