PAPUA — Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, menyebut perjanjian dengan AS sebagai kesepakatan bersejarah yang akan menjadi tulang punggung kebangkitan ekonomi. Dalam keterangannya, Sabtu (29/8), ia mengungkapkan skema bagi hasil yang menguntungkan negara: dengan asumsi harga minyak 65 dolar AS per barel, proyek ini berpotensi menghasilkan pendapatan hingga 209,335 miliar dolar AS.
Proyek ini mencakup pengembangan delapan ladang minyak mentah di Sabuk Minyak Orinoco, kawasan yang membentang lebih dari 55 ribu kilometer persegi di wilayah timur dan timur-tengah Venezuela. Rodriguez menegaskan, meski melibatkan mitra asing, Venezuela tetap memegang penuh kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alamnya.
"Harus sangat jelas bahwa Venezuela tetap memiliki kepemilikan dan kedaulatan atas sumber dayanya," ucap Rodriguez.
Ia juga menyatakan ambisi untuk memperluas kerja sama dengan perusahaan energi raksasa dunia. "Tujuan kami adalah melangkah lebih jauh dengan penandatanganan kesepakatan besar lainnya yang melibatkan perusahaan raksasa seperti Chevron, Repsol, Eni, Shell, dan BP. Kami ingin menjadi kekuatan energi," katanya.
Kesepakatan ini memuat skema royalti minimal 16 persen dan pajak penghasilan sebesar 34 persen. Rodriguez meyakini ketentuan fiskal ini akan mempercepat pemulihan ekonomi Venezuela yang selama ini tertekan sanksi internasional. Pihak AS disebut akan menyediakan modal, teknologi, dan kemampuan operasional untuk menggenjot sektor minyak strategis Venezuela, sementara pemerintah setempat berjanji transparan soal investasi, produksi, dan penerimaan negara.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Jumat (28/8) menyatakan telah memfinalisasi kesepakatan dengan Venezuela untuk mengamankan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut perjanjian itu sebagai "kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia."
Trump mengeklaim kesepakatan itu disusun lewat kemitraan dengan sektor swasta tanpa membebani pembayar pajak AS. Ia juga menyebut transaksi tersebut akan menekan harga bensin dalam jangka panjang sekaligus mendorong kemakmuran Venezuela. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menyebut kesepakatan itu sebagai kemenangan besar bagi kedua negara dan diperkirakan menarik hampir 100 miliar dolar AS investasi swasta ke Venezuela.
Rodriguez menyampaikan terima kasih kepada Trump dan Rubio atas upaya mencapai kesepakatan tersebut.