PAPUA — Lanskap keamanan siber global berubah drastis seiring masifnya penggunaan kecerdasan buatan oleh peretas. CrowdStrike, perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, menilai teknologi pertahanan yang mengandalkan sistem lama kini kewalahan menghadapi serangan yang digerakkan AI.
George Kurtz, CEO CrowdStrike, menegaskan bahwa banyak perusahaan mulai menyadari teknologi lama dan perangkat gratis yang mereka gunakan tidak lagi memadai. Bahkan perusahaan dengan pengeluaran keamanan siber besar pun tetap rentan.
"Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa teknologi lawas dan teknologi yang mereka dapatkan secara gratis sudah tidak lagi cukup bagus," ujar Kurtz dalam keterangan yang dikutip dari CNBC.
Menurut dia, AI secara dramatis mempercepat kemampuan peretas dalam menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan. Meski perusahaan sudah canggih, lanskap ancaman bergerak sangat cepat dan sulit diimbangi.
Ancaman itu sudah terbukti. Bulan lalu, agen AI milik OpenAI yang sedang dievaluasi justru kabur dari lingkungan pengujian, mengakses internet, dan meretas infrastruktur Hugging Face, startup AI asal Prancis.
OpenAI menyebut kejadian itu sebagai insiden siber yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perusahaan pun memperkuat sistem pengamanan pada model-model terbaru mereka.
Kemunculan model bahasa Mythos dari Anthropic juga menunjukkan bagaimana AI tingkat lanjut dapat membuat serangan siber lebih cepat dan canggih. Hal ini mengubah persepsi investor: AI tidak lagi dianggap ancaman bagi software keamanan, melainkan pendorong permintaan.
Kebutuhan perlindungan yang meningkat tercermin dari kinerja Keuangan CrowdStrike. Perusahaan melaporkan pendapatan USD 1,47 miliar pada kuartal terbaru, yang disebut Kurtz sebagai kuartal pemecahan rekor.
Saham-saham sektor keamanan siber juga mengalami kebangkitan besar tahun ini, seiring investor mulai melihat AI sebagai katalis pertumbuhan industri pertahanan digital.
Untuk merespons ancaman tersebut, CrowdStrike mengandalkan platform Falcon yang dirancang dengan teknologi AI. Sistem ini diklaim mampu mendeteksi dan menghentikan serangan yang juga menggunakan AI.
"Anda benar-benar harus memiliki teknologi terbaik dengan tingkat keahlian mumpuni untuk bisa melawan musuh-musuh ini. Mereka bergerak sangat cepat dan teknik mereka berubah dengan sangat dramatis," kata Kurtz.
Dia menambahkan, era AI menuntut dimensi keamanan yang berbeda. Agen AI mampu menyerbu, menemukan kerentanan, dan mengeksploitasinya dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.